Rabu, 01 Oktober 2014

Empat Cewek yang Bikin Ngiri

Bukan, Bukan, Bukan. Bukan Personil SNSD, girlband paling ngetop asal Korea yang cantik-cantik itu. Lagi pula personil SNSD ada sembilan orang atau delapan yak karena katanya Jessica dikabarkan keluar dari SNSD dan mau bersolo karier. *Ettdaah malah ngomongin SNSD*

Emma Watson? Bukan.

Jennifer Lawrence? Bukan.

Kristen Stewart? Bukan.

Angelina Jolie? Bukan.

Selena Gomez? Bukan.

Justin Bieber? Justin Bieber cowok wooy -__-

Dan empat cewek yang bikin ngiri versi saya adalah.. jeng.. jeng.. jeng..

Khadijah, Fathimah, Maryam dan Asiah.

Kenapa? Karena Rasulullah bilang..

“Wanita penghuni surga yang paling mulia adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Maryam binti Imran dan Asiah binti Muzahim.” (H.R Bukhari).

Well, mereka hidup pada masanya dengan cobaan yang tidak biasa. Jelas saja kalau Allah telah menjamin empat wanita ini masuk ke dalam surga-Nya. Tidak peduli seperti apa rupa mereka, apakah secantik artis-artis top yang malah kita idolakan? Tapi apa itu penting kalau pada akhirnya kita akan menemui hari akhir? Pernahkah kalian mendengar kalau neraka lebih banyak diisi perempuan dibanding laki-laki. Semoga kita bisa meneladani kesabaran dan sifat baik yang tertanam dalam hati mereka sehingga dijauhkan dari api neraka di hari akhir kelak. Amiin.  

Kamis, 07 Agustus 2014

Distraction of Smartphones!


Increased productivity is available to us all—and surprisingly, it may come in the form of doing only one thing at a time. 

Lagi iseng-iseng browsing, saya menemukan artikel bagus dari greatist.com klik disini Judulnya: Why Multitasking is a Waste and How to Truly Be More Productive. Di jaman sekarang ini, smartphone, tablet, atau portable laptop sudah jadi sahabat sejati hampir kebanyakan manusia yang hidup di belahan bumi manapun. Saya yakin ada banyak orang yang lebih memilih kembali pulang ke rumah kalau ‘sahabat sejati’nya itu tau-tau tidak ada di dalam tas, karena merasa benda itu terlalu berharga untuk ketinggalan di rumah. Oke oke saya tahu, betapa pentingnya benda tersebut dalam kehidupan kita.

 

Tapi teman-teman, bagaimana perasaan anda saat kita sedang asyik berbincang dengan seorang teman, tetapi teman anda tersebut malah sibuk senyam-senyum sendiri dengan smartphone-nya atau bagaimana perasaan seorang guru yang sedang menerangkan pelajaran namun anak muridnya lebih suka mantengin facebook atau twitter dibandingkan papan tulis. Sakitnya tuh disini!

 


Sementara dari sisi si pengguna gadget yang suka melakukan hal tersebut maka ketahuilah, multitasking membuat kita sulit konsentrasi pada suatu pekerjaan, multitasking berarti melakukan banyak hal dalam satu waktu. Multitasking with a phone (or iPad, tablet, etc.) sudah sangat lazim terjadi dan sebuah study menyebutnya “epidemic of distraction”. Contrary to popular thought, addiction to mobile electronic devices may actually impair multitasking, lower performance, and result in cognitive overload. Jadi bukan hal baik mengecek facebook ketika sedang di kelas atau ketika sedang ngumpul bareng temen, semua itu membuat kita sulit  fokus dan konsentrasi, mengalihkan suatu hal ke hal lain tentu saja membuat otak kita jadi overwhelmed. Saat itulah benda-benda penting tersebut bisa menjadi sangat mengganggu. 

Minggu, 13 Juli 2014

Memandang Langit


Dimana kau bisa melihat awan berarak pelan? Melihat indahnya perpaduan warna pelangi? Bulan purnama yang menggantung indah? Ribuan taburan bintang? Matahari terbit dan terbenam? Darimana jatuhnya jutaan tetesan air di atap rumahmu? Jawabannya hanya satu. Langit. Bukankah langit dipenuhi hal-hal menakjubkan? Pun langit bisa membuat kita menyadari banyak hal. Tataplah langit dan rasakan..

Memandang langit membuatku menyadari tidak ada satupun manusia yang berhak jemawa. Tidak satupun. Tahu pepatah itu kan? Diatas langit masih ada langit. Kita semua setara, makhluk ciptaan Allah. Yang membedakan adalah amal kebaikan dan tingkat ketakwaan.

Memandang langit membuatku menjadi sebiji kacang hijau di tengah lapangan sepak bola. Suruhlah seseorang mencari sebiji kacang hijau di tengah luasnya lapangan sepak bola. Tidak ada yang mau repot-repot melakukan hal itu bukan? Tidak ada pentingnya. Dan aku merasa betapa kecilnya aku. Aku tidak akan bisa mengira berapa jarak antara langit dan bumi. Dengan menatap langit aku menyadari betapa luasnya alam semesta.

Memandang langit membuatku merasakan kehadiran-Nya. Merasakan Allah tengah melihatku, satu diantara triliunan makhluk ciptaan-Nya, termasuk burung-burung yang sedang mengepakkan sayapnya, melintas menembus awan, aku tahu mereka tengah bertasbih kepada Allah dengan cara mereka.

Memandang langit membuatku bersyukur. Bersyukur bisa menatap langit dengan segala keindahannya. Langit adalah satu diantara banyaknya ciptaan Allah yang hebat. Tataplah langit dan rasakan.. 

Minggu, 06 Juli 2014

How to Feel Confident?


Beberapa hari yang lalu saya ngubek-ngubek rak buku di rumah, berharap menemukan buku bagus yang enak dibaca mengingat list buku di goodreads tidak bertambah dua bulan terakhir. (T___T). Hingga pada akhirnya mata saya tertuju pada sebuah buku yang kalau dilihat secara fisik sama sekali nggak menarik. Kertasnya udah burem, lecek, mengindikasikan kalau buku ini sudah ada sejak jaman dahulu kala. Ternyata buku ini Papa saya beli tahun 1995. Udah lama banget kaan! Judulnya: The Magic of Thinking Big, penulisnya David J. Schwartz. Dan apalah arti tampilan fisik, kalau ternyata isinya sangat berguna bagi nusa dan bangsa huahahaha. 

Bangun Kepercayaan dan Hancurkan Ketakutan, poin Bab III dalam buku tersebut. Tidak semua orang memiliki rasa percaya diri bukan? Sayapun demikian. Kita kerap kali terjebak dalam ketakutan yang kita ciptakan sendiri. Ketakutan yang bersifat psikologis seperti rasa khawatir, tegang, malu, atau panik yang berakar dari imajinasi negatif. Well, David J. Schwartz menyarankan untuk melakukan teknik-teknik kecil yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk membuat kita bisa menjadi lebih percaya diri, yaitu sebagai berikut:

1. Duduklah selalu di barisan depan

Pernahkah anda memperhatikan bahwa kursi belakang selalu penuh lebih dulu dibanding dengan kursi di bagian depan, entah itu di kelas ketika kuliah berlangsung, di  pertemuan seperti seminar, pelatihan, atau di pertemuan lain? Kebanyakan orang bergorombol duduk di barisan belakang sehingga membuat mereka menjadi “tidak terlalu mencolok”. Dan alasan mereka tidak ingin terlihat mencolok karena kurangnya rasa percaya diri.
Duduk di barisan depan membangun rasa percaya diri. Praktekkanlah. Mulai sekarang dan seterusnya jadikan kebiasaan untuk duduk di barisan sedepan mungkin. Memang anda mungkin tampak sedikit lebih mencolok di depan. Tapi ingat, tidak ada yang tidak mencolok sehubungan dengan kesuksesan.

2. Biasakan mengadakan kontak mata

Bagaimana orang menggunakan matanya untuk memberitahu kita banyak hal tentang orang yang bersangkutan. Secara naluriah anda mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri mengenai orang yang tidak mau memandang ke mata anda. “Apa yang ia coba sembunyikan? Apa yang ia takutkan? Apakah ia mencoba membohongi saya? Apakah ia menyembunyikan sesuatu?”

Biasanya kelalaian mengadakan kontak mata mengatakan salah satu dari dua hal. Orang gagal mungkin mengatakan, “Saya merasa lemah di depan anda. Saya merasa inferior di hadapan anda. Saya takut kepada anda." Atau mengindari pandangan orang lain mungkin mengatakan, “Saya merasa bersalah, saya telah melakukan sesuatu atau saya memikirkan sesuatu yang tidak ingin anda tahu. Saya takut jika saya membiarkan pandangan mata saya bertemu dengan pandangan anda, anda akan mengetahui rahasia saya."

3. Berjalanlah 25% lebih cepat. 

Para psikolog mengaitkan postur yang ceroboh dan cara berjalan yang lamban dengan sikap tidak menyenangkan terhadap diri sendiri, pekerjaan dan orang-orang disekeliling kita. Namun, psikolog juga mengatakan bahwa kita dapat benar-benar mengubah postur dengan mengubah sikap dan kecepatan bergerak. Amati, dan anda akan melihat bahwa gerak tubuh adalah hasil dari tindakan pikiran. Orang yang sangat tidak puas, orang yang benar-benar sengsara, benar-benar berjalan terhuyung dan tersandung sepanjang jalan, mereka memiliki kepercayaan diri nol besar.

Orang rata-rata berjalan dengan kecepatan rata-rata, langkah rata-rata, mereka berpenampilan: saya tidak terlalu bangga akan diri saya sendiri.

Kemudian ada kelompok ketiga. Orang-orang dalam kelompok ini memperlihatkan kepercayaan diri yang super. Mereka berjalan lebih cepat dari rata-rata orang kebanyakan. Terlihat seperti setengah berlari sewaktu berjalan. Cara berjalan mereka mengatakan kepada dunia: saya harus pergi ke suatu tempat yang penting dan ada hal penting yang harus saya kerjakan. Lebih dari itu, saya akan berhasil!!

Gunakan teknik berjalan 25 persen lebih cepat untuk membangun kepercayaan diri. Tegakkan bahu anda, angkat kepala, bergerak maju sedikit lebih cepat dan rasakan kepercayaan diri anda berkembang. Coba dan lihat hasilnya.

4. Berbicaralah terus terang

Orang yang malu berbicara dalam rapat akan berpikir dalam hati: opini saya mungkin tampak bodoh. Saya tidak mau berkata apa-apa. Selain itu, orang lain mungkin lebih tahu daripada saya. Saya tidak mau orang lain tahu betapa bodohnya saya.

Tiap kali orang pemalu gagal bicara, ia merasa semakin tidak memadai, semakin inferior. Acap kali ia membuat janji palsu kepada diri sendiri (yang jauh dalam hatinya ia tahu tidak akan ia penuhi) untuk berbicara “lain kali”.

Ini sangat penting: tiap kali kita gagal bicara, kita mengambil satu dosis lagi dari racun kepercayaan. Kita menjadi semakin kurang percaya diri.

Namun pada sisi positif, semakin banyak anda berbicara, semakin besar anda menambah kepercayaan diri anda, dan semakin mudah untuk berbicara terus terang pada kesempatan berikutnya. Berbicaralah terus terang! Ini adalah vitamin pembangun kepercayaan.

Manfaatkanlah pembangun kepercayaan ini. jadikanlah kaidah untuk berbicara dengan berani pada tiap pertemuan terbuka yang anda ikuti. Berbicaralah, katakan sesuatu secara sukarela pada tiap rapat bisnis, pertemuan panitia, forum komunitas yang anda hadiri. Jangan buat pengecualian. Beri komentar, buat saran, ajukan pertanyaan. Dan jangan jadi orang terakhir yang berbicara. Cobalah menjadi pemecah kekakuan, orang pertama yang memberi komentar.

Dan jangan pernah khawatir akan tampak bodoh. Anda tidak akan tampak demikian. Untuk tiap orang yang tidak setuju dengan anda, kemungkinannya ada satu orang yang setuju. Berhentilah bertanya pada diri sendiri, “Apakah saya berani melakukannya?."

5. Tersenyum lebar

Kebanyakan orang pernah mendengar pada suatu kesempatan bahwa senyuman akan memberi mereka dorongan yang sebenarnya. Mereka diberitahu bahwa senyuman adalah obat yang ampuh sekali untuk kekurangan kepercayaan diri. Namun, banyak sekali orang yang tidak percaya akan hal ini karena mereka tidak pernah mencoba tersenyum ketika mereka merasa takut.

Buat ujian kecil ini. Cobalah merasa kalah dan tersenyumlah lebar-lebar pada saat yang sama. Anda tidak dapat melakukannya. Senyum yang lebar memberi anda kepercayaan diri. Senyum yang lebar mengalahkan ketakutan, menggulingkan kekhawatiran, menaklukan kemurungan.

Dan senyum yang sebenarnya mengerjakan lebih daripada sekedar menyembuhkan perasaan anda yang tidak enak. Senyum meluruhkan perlawanan dari orang lain –dan juga secara seketika. Orang lain tidak dapat marah kepada anda jika anda memberinya senyuman lebar yang tulus.

Tersenyumlah lebar-lebar, maka andapun merasa “hari-hari bahagia kembali lagi”. Tetapi benar-bernarlah tersenyum lebar. Bukan senyum setengah-setengah tidak meyakinkan. Tersenyumlah hingga gigi anda terlihat. Senyuman ukuran besar itu terjamin sepenuhnya.

Kita sudah sering mendengar, “Ya, tetapi ketika saya takut akan sesuatu atau ketika saya marah, saya tidak ingin tersenyum.”

Tentu saja anda tidak ingin tersenyum. Tak seorangpun ingin tersenyum. Kiatnya adalah memaksa diri mengatakan, “Saya akan tersenyum.”

Kemudian tersenyumlah.

Manfaatkan kekuatan dari senyuman.

Jumat, 30 Mei 2014

Tidakkah Kita Pernah Berfikir?

Mungkin ada suatu masa ketika kita merasa hidup ini terlalu membosankan, berada pada titik stagnan,  merasa tidak berguna, merasa tidak dipedulikan, merasa hidup ini tidak adil, merasa tidak punya kesempatan, merasa terkalahkan, merasa menjadi pecundang dan beragam perasaan-perasaan yang mampu membuat air mata berlinang.

Tapi ada satu fakta yang mungkin bisa membuat kita sedikit membuka mata. Fakta yang menyatakan bahwa kita semua terlahir sebagai seorang pemenang. Ya.. Setiap manusia yang dilahirkan ke dunia ini adalah seorang pemenang. Tahu tidak? Kita adalah satu-satunya yang terpilih diantara tiga ratus juta lainnya, TIGA RATUS JUTA LOH, tiga ratus juta itu lebih dari jumlah penduduk Indonesia yang ada pada saat ini, yang kemudian disaring lagi menjadi lima puluh sampai lima belas besar dan tau-tau kita menjadi pemenangnya. Bukan pemenang sebagai penyanyi keren yang mengalahkan banyak kontestan X-Factor atau Indonesian Idol, tetapi mengalahkan calon-calon manusia yang –kalau beruntung- maka benar-benar menjadi makhluk real bernama manusia. 

Sejak awal, sebelum dilahirkan dari rahim Ibu kita, bahkan sebelum terbentuknya janin, dari tiga ratus juta sel sperma, Allah hanya menakdirkan lima puluh hingga lima belas benih manusia yang berhasil masuk kedalam tabung fallovi. Kemudian, dari sejumlah itu hanya satu sel saja yang dapat membuahi sel telur wanita. Dan dengan proses-proses selanjutnya jadilah seorang manusia dengan segala keistimewaannya.

Tidakkah kita pernah berfikir betapa beruntungnya kita terlahir ke dunia ini? Betapa Allah maha baik? Kita diberi kesempatan untuk menghirup oksigen secara gratis, kita diberi kesempatan untuk melakukan banyak hal, kita diberi kesempatan menatap matahari terbit ketika fajar menyingsing, menatap indahnya rembulan dan langit berbintang di malam hari, memandang langit biru tak bertiang, merasakan aroma hujan yang menerpa jalanan, merasakan angin berhembus menerpa wajah, dan hal-hal menyenangkan lainnya.

Tidakkah kita pernah berfikir betapa beruntungnya kita? 

Senin, 26 Mei 2014

The Cockroach

Saat aku akan keluar rumah hendak menyambut kehangatan sinar mentari, aku melihatnya, kecoa, makhluk menjijikkan itu. Kalian tau kecoa kan? Tentu saja. Makhluk itu ada di setiap rumah, termasuk menumpang hidup di rumah kalian, kecuali kalau rumah kalian benar-benar super bersih. Mereka kadang bersembunyi di dalam sarang, kadang merayap, kadang sesekali terbang. Kalian bisa menemukannya di dapur ataupun di kamar mandi, mereka senang berada di tempat yang hangat, lembab dan banyak terdapat makanan. Tapi kalian tidak akan bisa percaya dengan apa yang kulihat saat ini. Aku harus menyaksikan makhluk itu muncul berkerumun dari dalam tanah lalu merayap kesana kemari di halaman. Jumlahnya tidak sedikit, awalnya muncul satu dua, lalu sepuluh, lalu dua puluh, lalu seratus, lama kelamaan semakin banyak dan banyak hingga aku tidak bisa lagi memperkirakan berapa jumlahnya, mereka keluar dari dalam lubang secara bersamaan, bertumpuk-tumpuk. Satu di antara mereka merayap ke arah kakiku. Aku memekik dan segera masuk kedalam rumah, menutup pintu, jendela, lubang angin, atau apapun yang memungkinkan kecoa-kecoa itu bisa masuk kedalam rumah. Gerakanku melambat, kaki ku gemetaran. Mereka tampak mengerikan. Entah darimana dan bagaimana bisa kecoa sebanyak  itu datang, mereka seperti dari dunia lain, atau mungkin ada kehidupan lain di bawah tanah, sebuah tempat khusus dimana kecoa-kecoa itu hidup, mencari makan dan berkembang biak.

Keluargaku yang sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing berhenti, menghampiriku, bertanya.

“ke.. coa.. ke.. coa.. kecoa..” aku menjawab terbata sambil menunjuk-nunjuk ke arah halaman.

Mereka semua mengernyit heran melihat gelagatku. Mungkin mereka fikir, kecoa? Hanya kecoa? Oh ayolah, kecoa cuma makhluk kecil, kau hanya perlu menginjaknya maka urusan selesai.

Kakakku membuka gorden, mengintip di jendela, memastikan apa yang terjadi. Ia terlonjak dan menatap kami dengan ekspresi seperti saat kau tak sengaja melihat hantu. Ayah, Ibu, adik, dan kakak perempuanku melakukan hal yang sama, setelahnya Ibu dan kakak perempuanku berteriak kencang. Mereka tidak bisa melihat cahaya matahari di jendela dengan jelas, karena sebagian kecoa-kecoa itu menutupinya, yang terlihat adalah kaki-kaki mereka yang kecil dan bergerombol, dan sebagian lainnya adalah kecoa-kecoa yang menutupi rerumputan dan pepohonan di halaman. Aku menangis, dan mulai berfikir apakah kami aman disini dan apakah kecoa-kecoa itu akan memakan kami hidup-hidup kalau mereka berhasil menerobos masuk ke dalam rumah kami. Walaupun aku tidak pernah mendengar ada kecoa yang suka makan daging manusia, tapi bisa saja itu terjadi. Jika jumlah makanan mereka yang tersedia di bumi ini sudah habis maka tidak menutup kemungkinan manusia akan jadi makanan cadangan mereka. Aku  menangis semakin kencang. Sekarang kami semua begitu ketakutan, kami terkurung di dalam rumah ini memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang kapanpun bisa terjadi.

Aku segera bangkit dari dudukku saat melihat seekor kecoa berhasil masuk melewati lubang angin yang tadi luput dari pandanganku, makhluk itu terbang dan merayap di lantai. Kakakku segera menginjaknya, mengakhiri hidup si kecoa. Melihat tidak ada kecoa lain yang masuk, kami fikir mereka pasti telah lenyap entah kemana. Benar saja saat kami kembali mengintip di jendela, kami tidak melihat seseekor kecoapun lagi. Kami menghembuskan nafas lega, jangan-jangan ada superhero yang menyelamatkan hidup kami dari serangan kecoa. Kali ini Ayahku tanpa rasa was-was dengan ringan membuka pintu selebar mungkin, kami semua keluar rumah dan.. kami satu keluarga harus menyaksikan sesuatu yang lebih mengerikan dibanding melihat segerombolan kecoa yang jumlahnya mungkin lebih banyak dibanding jumlah pasir di pantai yang ada di seluruh dunia. Ada seekor.. eh.. tidak.. dua ekor kecoa raksasa yang sedang melayang diatas rumah kami.

 ***

Muahahaha.. kisah diatas hanya fiktif semata, ide cerita bersumber dari mimpi yang dialami penulis semalam. Maka pagi ini, dengan lancar saya menuangkannya dalam bentuk tulisan singkat. Mungkin karena lupa membaca doa sebelum tidur sehingga saya mengalami mimpi buruk yang aneh. Tapi mimpi buruk kali ini lumayan seru!!

Rabu, 07 Mei 2014

The One Thing We Need to Realize

Saya atau juga kalian mungkin pernah menyakiti hati seseorang tanpa pernah menyadarinya. Tanpa sadar kita berbicara tanpa melakukan penyaringan kata-kata terlebih dulu, tanpa memikirkan apakah kata-kata yang keluar dari mulut kita itu layak diucapkan atau tidak, apakah melanggar batasan-batasan atau tidak, apakah akan menyakiti hati orang yang mendengarnya atau tidak.

Seseorang dengan sense of humour yang bagus tentu saja akan disukai banyak orang, buktinya tinggi sekali rating acara-acara lawak ditelevisi. Sayapun demikian, menyukai orang-orang humoris. Mereka membuat suasana hati jadi riang kalau mood dalam keadaan tidak stabil, ibarat terjadinya hyper-inflasi yang akan membuat perekonomian nasional terancam ambruk.

Tidak semua orang bisa menerima kata-kata candaan yang kita anggap biasa saja,  karena tidak semua orang memiliki hati yang sabar kemudian berkata aku ora popo. Tidak semua acara-acara lawak di televisi yang ratingnya tinggi dan ditayangkan setiap hari layak ditiru. Ketika menghina dan mengejek merupakan bagian dari serangkaian guyonan-guyonan yang mampu membuat penonton terbahak-bahak. Dan kita asyik sekali ikut ketawa-ketiwi tanpa pernah tahu kalau mungkin saja kita sedang melakukan dosa-dosa kecil yang lama kelamaan membesar sehingga jadi dosa besar. 

Semoga kita bisa lebih berhati-hati dalam mengeluarkan suara yang membentuk kalimat-kalimat untuk terdengar ditelinga orang lain. karena...

"Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS. Qaf [50]:18)

Senin, 28 April 2014

My Apprentice Experience

I’ll tell you a little bit about my apprentice experience in BI for a month.

Alhamdulillah saya mendapat kesempatan magang di sebuah bangunan megah bernuansa abu-abu di Jl. Jenderal Sudirman, dengan plang besar yang bertuliskan BANK INDONESIA. Magang tahap kedua ini merupakan salah satu mata kuliah di semester akhir setelah semester sebelumnya magang di Pegadaian.

Saya merasa cukup beruntung, cukup saja, karena sangat beruntung ditujukan bagi orang-orang yang berhasil melewati serangkaian tes berbulan-bulan untuk bekerja dan jadi pegawai tetap dengan jabatan bagus di Bank Indonesia. Please pray for me! Siapa pula yang nggak mau kerja disini.

Pak Fatoni, salah satu pegawainya, ketika sedang sesi sharing tentang persiapan masuk dunia kerja, bilang dari dua puluh ribu yang melamar, hanya tiga yang diterima. Seleksinya ketat, mesti punya kemampuan bahasa Inggris yang oke, score toefl minimal 550, kalau bisa plus bahasa asing terutama Bahasa China dan Bahasa Arab, punya kemampuan berkomunikasi, punya kemampuan menulis, wawasan luas, dan lain-lain. Syarat-syarat umum yang juga dibutuhkan perusahaan besar lainnya. Dan.. tidak akan ada nepotisme atau situ mesti bayar puluhan juta untuk jadi pegawai seperti PNS, tapi disini yang berperan penting adalah kemampuan otak yang memadai, ya mesti diatas rata-rata, selain keberuntungan yang menyertai. Pekerjaan yang bisa membuat hidupmu sejahtera.

Selama magang di BI banyak sekali ilmu dan pengetahuan yang saya terima. Mengikuti seminar tentang budi daya ulat sutera, mengikuti pelatihan wartawan yang diadakan Bank Indonesia, melihat proses kliring, ke tempat penukaran uang, dan masih banyak lagi. Bagi yang punya uang sobek, rusak, atau punya banyak uang receh bisa di tukar disana. Bank Indonesia juga menyediakan fasilitas perpustakaan, tempatnya cozy dan buku-bukunya up to date.  

Yang paling berkesan saat magang di BI adalah saya dan enam orang teman lainnya diberikan pelatihan public speaking oleh Pak Sulian Jaya. Pak Sulian Jaya ini telah berpengalaman jadi pembawa acara atau pembawa berita. Yang jelas sudah terbiasa tampil di depan umum tanpa nervous atau jantung mau lepas dari tempatnya. 

Anak-anak magang gelombang II (Rio, Sana, Kiki, Dita, Saya, Teja & Tyo)

Ketika sedang pelatihan singkat tentang public speaking.

Saya lagi persentasi hasil laporan tentang Peran BI pasca OJK.

Foto bersama Pak Sudarta dan Pak Rosman.




Satu bulan ternyata berlalu dengan cepat. Yang pasti saya akan merindukan hari-hari saat magang di BI. Semoga saya termasuk kedalam golongan orang yang sangat beruntung kelak. My apprentice experience in BI, an unforgettable moment!

Minggu, 06 April 2014

Tips Memilih Jodoh Dengan 5C

Bagi saya dan teman-teman yang kuliah di jurusan perbankan atau ekonomi prinsip 5C sudah begitu familiar di telinga. Kita semua tahu bank akan memilah-milah nasabahnya yang mengajukan pembiayaan atau kredit, dengan cara menganalisa nasabahnya dengan menggunakan analisis 5C, mana yang layak untuk menerima pinjaman dan mana yang tidak. Well, tidak hanya pihak bank yang dapat menilai nasabahnya dengan 5C, namun kita sebagai manusia yang diciptakan berpasang-pasangan juga bisa memilih jodoh dengan menggunakan prinsip ini. Dan prinsip 5C ini lebih ditujukan untuk kaum hawa. Berikut adalah penjabarannya:

1. Character
C yang pertama adalah karakter. Tentu saja karakter adalah hal yang paling utama dan paling penting dalam memilih debitur maupun pasangan. Bank akan melihat calon penerima pinjaman dari watak atau sifat yang dimilikinya, apakah bank bisa mempercayai calon penerima pinjaman itu untuk mengembalikan kewajibannya ataukah tidak dengan melihat pada latar belakang pendidikan, pekerjaan, gaya hidup yang dianutnya, keadaan keluarga, hobi dan sosial standingnya. Seorang Account Officer akan bertanya pada tetangga kiri kanan si calon penerima pinjaman untuk menggali informasi lebih jauh dan mendalam. Tidak jauh beda dengan bank, maka seorang wanita juga harus mengenal lebih dekat apakah si-calon-penerima-cinta-yang-tulus-dan-suci memiliki akhlak yang baik, paling tidak memenuhi kriteria seperti baik hati dan rajin menabung di bank syariah.


2. Capacity
Bank akan melihat nasabah dari kemampuannya mengelola dana yang diberikan bank, kemampuan berbisnis dari latar belakang pendidikan, kemampuan nasabah mengembalikan dana dari bank. Maka dalam memilih pasangan, kita juga harus melihat kemampuan si-calon-penerima-cinta-yang-tulus-dan-suci dalam memikat hati kita dan hati calon mertuanya. Seseorang yang hanya bisa memikat hati seorang perempuan tanpa bisa memikat hati kedua orang tuanya adalah permasalahan yang serius. Karena restu Allah, restu orang tua. Kalau semua itu bisa dilakukan maka mari lanjut ke C yang ketiga.


3. Capital
Modal identik dengan materi. Mungkin kebanyakan laki-laki akan mengatakan kalau sebagian besar perempuan akan lebih menyukai pria yang memiliki kelebihan modal. Sama halnya dengan kebanyakan laki-laki yang lebih menyukai perempuan dengan tampilan fisik yang menarik secara visual. Itu tidak salah, semua orang memiliki kriterianya masing-masing. Namun tidak semua perempuan akan melakukan itu, ya tergantung gadis mana yang diinginkan. Memikat hati seorang gadis, apalagi yang hati dan tampilannya mendekati bidadari tentu tidak mudah. Tidak cukup modal cinta, modal tampang, atau modal prestasi yang membanggakan tapi sesungguhnya modal yang paling penting adalah kesetiaan dan ketulusan hati. 


4. Collateral
Jaminan. Prinsip 5 C ini bukan untuk mencari pacar, tapi jodoh, yang artinya akan ada ikatan yang serius dalam sebuah hubungan. Untuk melanjutkan hubungan yang lebih serius pastinya harus melangkah ke tahap pernikahan. Naaaahh... untuk membina keluarga yang bahagia maka mesti ada jaminan. Sama seperti bank yang meminta jaminan kepada nasabahnya untuk menghindari resiko kredit macet. Ada dua macam jenis jaminan berdasarkan sifatnya yaitu, jaminan bergerak dan jaminan tidak bergerak. Jaminan bergerak ya misalnya kendaraan bermotor macam mobil, sepeda motor, ataupun deposito. Kalau jaminan tidak bergerak contohnya tanah dan rumah beserta isi dan juga pohon-pohonnya.     


5. Condition
Dalam menganalisa calon debiturnya bank juga akan memperhatikan keadaan perekonomian di sekitar tempat tinggal calon debitur untuk memperhitungkan kondisi ekonomi yang akan terjadi di masa datang. Kondisi ekonomi yang perlu diperhatikan antara lain masalah daya beli masyarakat, luas pasar, persaingan, perkembangan teknologi, bahan baku, pasar modal, dan lain sebagainya. Sedangkan dalam memilih jodoh kita juga perlu memperhatikan kondisi keuangan si-calon-penerima-cinta-yang-tulus-dan-suci jika ingin membina keluarga sakinah, mawaddah, warrahmah. Karena pasangan yang akan melangsungkan pesta pernikahan pasti akan mengeluarkan banyak biaya. Mulai dari acara lamaran, akad nikah, resepsi pernikahan hingga bulan madu. Nah selain menilai kondisi keuangan di masa sekarang kita juga harus memastikan kondisi keuangan di masa yang akan datang karena hidup tidak hanya berlangsung ketika terjadinya ikatan pernikahan, hari esok telah menanti, pun esoknya lagi dan esoknya lagi.

Itulah kiat-kiat mencari jodoh dengan prinsip 5C dari sudut pandang seorang mahasiswi perbankan semester akhir. Saya setuju dengan menempatkan Character di poin yang paling atas, tapi bukan berarti C yang kedua, ketiga, keempat dan kelima tidak penting, hanya saja kalau hanya ada 4C tanpa memenuhi C yang pertama maka rasa-rasanya prinsip 5C ini tidak ada artinya, useless. Actually, tulisan diatas tidak mengandung unsur keseriusan cuma keisengan saya yang tiba-tiba punya ide buat nulis beginian :D :D :D Yang jelas daripada mengikuti tips diatas lebih baik menggunakan prinsip di bawah ini jika benar-benar ingin mencari jodoh. 


Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda : “Perempuan itu dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya, lalu pilihlah perempuan yang beragama niscaya kamu bahagia.” (Muttafaqun ‘Alaihi).


Saya rasa hadis di atas tidak mutlak hanya ditujukan buat kaum adam tapi juga kaum hawa. Dan dalam membaca hadis tersebut sepertinya yang perlu diperhatikan betul adalah baris terakhirnya: lalu pilihlah perempuan (laki-laki) yang beragama niscaya kamu bahagia. Sekian.