
Sampai sekarang saya belum move on dari novel Dilan yang penuh dialog-dialog cerdas dan romantis, meski gaya bahasanya biasa saja dan tidak rapi. Saya tidak tertarik baca awalnya ketika baca satu dua halaman di gramedia yang sudah tak berplastik. Saya merasa novel ini biasa saja karena gaya bahasanya tidak sebagus novel-novel yang biasa saya baca. Nyatanya, kita memang tidak bisa menyimpulkan hanya dengan membaca satu dua halaman. Akan tetapi setelah tahu novel ini akan difilmkan dan trailernya ditonton dua juta kali dalam dua hari, saya menjadi penasaran untuk membaca secara keseluruhan. Akhirnya saya tahu kenapa novel ini menjadi best seller dan memiliki banyak penggemar. Yah, barangkali saya terlalu terlambat membaca ini, tetapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Sebenarnya cerita dalam novel ini biasa saja dan sederhana akan tetapi yang membuatnya menarik adalah kisah dan tokoh-tokoh di dalamnya adalah nyata, bercerita perihal kisah cinta sepasang remaja ketika duduk di bangku SMA, tentang Dilan dan Milea, terjadi di Bandung, tahun 1990. Ditulis oleh Pidi Baiq dengan melakukan wawancara khusus dengan si pemilik kisah. Karena katanya ini kisah nyata, saya mencari tahu siapa Dilan, tapi tidak diketahui dengan pasti siapalah si Dilan ini, membuat saya dan pembaca lainnya menduga-duga, jangan-jangan Dilan adalah penulisnya sendiri. Milea sendiri telah saya lihat foto-fotonya di media sosial. Saya sependapat dengan apa yang dikatakan Sherlock Holmes dalam filmnya Mr. Holmes (2015): “Fiction is worthless.” Tetapi tidak bisa pula mengabaikan novel fiksi yang bagus.
Kebanyakan
pembaca perempuan sudah dipastikan akan jatuh cinta pada tokoh Dilan. Pemuda
bandel tetapi cerdas. Pemuda yang merupakan anggota geng motor namun tetap
mendapatkan ranking pertama di kelas, dengan hobi membaca dan menulis puisi. Siapa
yang terpikirkan untuk memberi hadiah ulang tahun berupa TTS yang telah
diisinya semalaman? Siapa yang terpikirkan untuk mengirim surat kepada tetangga
si gebetan mengenai betapa ia menyukai gadis yang bertetangga dengannya itu?
Siapa yang terpikirkan untuk mengirim cokelat melalui tukang koran atau tukang
sayur? Semua yang dilakukan Dilan untuk Milea adalah hal-hal yang kreatif dan
anti mainstream, begitupun puisi-puisi yang ia buat. Memang benar, menjadi normal
bukanlah hal yang bagus. Milea, si gadis cantik jelita dan didekati banyak
laki-laki jaman itu, tidak tertarik bahkan pada laki-laki yang memiliki
spesifikasi yang mumpuni dibandingkan Dilan. Membaca ini para perempuan dibuat
tersipu dan jatuh cinta, sementara para lelaki menjadi peniru Dilan.
Lalu
novel ini menyampaikan beberapa pelajaran berharga, semacam jangan mengambil keputusan
semena-mena dan menganggap enteng perkara asal bicara lalu mengira, setelahnya semua akan berjalan
baik-baik saja, karena semua hal tidaklah selamanya berjalan seperti
perkiraanmu. Tidak baik pula mengubah seseorang yang telah nyaman menjadi
dirinya sendiri, seolah-olah hidup hanya melulu tentang romansa, tidak
pertemanan dan kehidupan lainnya. Sementara kehidupan yang baik adalah
kehidupan yang berjalan seimbang. Untuk kemudian, keegoisan Milea membuat Dilan
ragu untuk menginginkannya kembali. Perasaan itu lalu berubah sebagaimana waktu
berlalu, cinta untuk Milea kembali hadir kadang-kadang, namun kesalahpahaman
membuat keinginannya untuk bersatu menjadi runtuh. Begitupun Milea yang selalu
berharap akan kembali bersama-sama dengan Dilan. Mereka sama-sama masih
mencintai, ingin kembali, tetapi prasangka akan hadirnya sosok pengganti
masing-masing pihak membuat mereka memilih menjauhi. Pelajaran kedua, Betapa prasangka begitu
berbahaya, maka bertanyalah perihal yang samar-samar. Jadikanlah semua itu
terang-benderang. Meski harus mengabaikan gengsi dan harga diri.
Dilan
dan Milea tidak berjodoh adalah kenyataan pahit yang harus diterima penggemar
novel Dilan macam saya. Akan tetapi waktu yang telah berlalu tidak bisa kembali
karena masing-masing pihak terlambat menyadari. Cinta itu tidak egois, maka
dari itu cinta tidak harus memiliki. Mencintai itu mengkhilaskan, merelakan, melepaskan.




















