Minggu, 07 Januari 2018

Tentang Dilan

Related image
Sampai sekarang saya belum move on dari novel Dilan yang penuh dialog-dialog cerdas dan romantis, meski gaya bahasanya biasa saja dan tidak rapi. Saya tidak tertarik baca awalnya ketika baca satu dua halaman di gramedia yang sudah tak berplastik. Saya merasa novel ini biasa saja karena gaya bahasanya tidak sebagus novel-novel yang biasa saya baca. Nyatanya, kita memang tidak bisa menyimpulkan hanya dengan membaca satu dua halaman. Akan tetapi setelah tahu novel ini akan difilmkan dan trailernya ditonton dua juta kali dalam dua hari, saya menjadi penasaran untuk membaca secara keseluruhan. Akhirnya saya tahu kenapa novel ini menjadi best seller dan memiliki banyak penggemar. Yah, barangkali saya terlalu terlambat membaca ini, tetapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Sebenarnya cerita dalam novel ini biasa saja dan sederhana akan tetapi yang membuatnya menarik adalah kisah dan tokoh-tokoh di dalamnya adalah nyata, bercerita perihal kisah cinta sepasang remaja ketika duduk di bangku SMA, tentang Dilan dan Milea, terjadi di Bandung, tahun 1990. Ditulis oleh Pidi Baiq dengan melakukan wawancara khusus dengan si pemilik kisah. Karena katanya ini kisah nyata, saya mencari tahu siapa Dilan, tapi tidak diketahui dengan pasti siapalah si Dilan ini, membuat saya dan pembaca lainnya menduga-duga, jangan-jangan Dilan adalah penulisnya sendiri. Milea sendiri telah saya lihat foto-fotonya di media sosial. Saya sependapat dengan apa yang dikatakan Sherlock Holmes dalam filmnya Mr. Holmes (2015): “Fiction is worthless.” Tetapi tidak bisa pula mengabaikan novel fiksi yang bagus.

Kebanyakan pembaca perempuan sudah dipastikan akan jatuh cinta pada tokoh Dilan. Pemuda bandel tetapi cerdas. Pemuda yang merupakan anggota geng motor namun tetap mendapatkan ranking pertama di kelas, dengan hobi membaca dan menulis puisi. Siapa yang terpikirkan untuk memberi hadiah ulang tahun berupa TTS yang telah diisinya semalaman? Siapa yang terpikirkan untuk mengirim surat kepada tetangga si gebetan mengenai betapa ia menyukai gadis yang bertetangga dengannya itu? Siapa yang terpikirkan untuk mengirim cokelat melalui tukang koran atau tukang sayur? Semua yang dilakukan Dilan untuk Milea adalah hal-hal yang kreatif dan anti mainstream, begitupun puisi-puisi yang ia buat. Memang benar, menjadi normal bukanlah hal yang bagus. Milea, si gadis cantik jelita dan didekati banyak laki-laki jaman itu, tidak tertarik bahkan pada laki-laki yang memiliki spesifikasi yang mumpuni dibandingkan Dilan. Membaca ini para perempuan dibuat tersipu dan jatuh cinta, sementara para lelaki menjadi peniru Dilan.

Lalu novel ini menyampaikan beberapa pelajaran berharga, semacam jangan mengambil keputusan semena-mena dan menganggap enteng perkara asal bicara lalu mengira, setelahnya semua akan berjalan baik-baik saja, karena semua hal tidaklah selamanya berjalan seperti perkiraanmu. Tidak baik pula mengubah seseorang yang telah nyaman menjadi dirinya sendiri, seolah-olah hidup hanya melulu tentang romansa, tidak pertemanan dan kehidupan lainnya. Sementara kehidupan yang baik adalah kehidupan yang berjalan seimbang. Untuk kemudian, keegoisan Milea membuat Dilan ragu untuk menginginkannya kembali. Perasaan itu lalu berubah sebagaimana waktu berlalu, cinta untuk Milea kembali hadir kadang-kadang, namun kesalahpahaman membuat keinginannya untuk bersatu menjadi runtuh. Begitupun Milea yang selalu berharap akan kembali bersama-sama dengan Dilan. Mereka sama-sama masih mencintai, ingin kembali, tetapi prasangka akan hadirnya sosok pengganti masing-masing pihak membuat mereka memilih menjauhi. Pelajaran kedua, Betapa prasangka begitu berbahaya, maka bertanyalah perihal yang samar-samar. Jadikanlah semua itu terang-benderang. Meski harus mengabaikan gengsi dan harga diri.

Dilan dan Milea tidak berjodoh adalah kenyataan pahit yang harus diterima penggemar novel Dilan macam saya. Akan tetapi waktu yang telah berlalu tidak bisa kembali karena masing-masing pihak terlambat menyadari. Cinta itu tidak egois, maka dari itu cinta tidak harus memiliki. Mencintai itu mengkhilaskan, merelakan, melepaskan.

Lalu membuat saya berfikir pula, barangkali itulah kenapa Allah melarang hal-hal semacam pacaran itu dilakukan. Yang Allah perintahkan adalah semata-mata demi kebaikan kita, selain menjaga kehormatan diri, menghindarinya mampu menjaga hati. Perasaan yang terlampau berlebihan hanya akan merugikan diri sendiri. Seharusnya dari awal Milea tidak tergoda akan perlakuan dan kata-kata romantis Dilan, sehingga tidak perlu hidup di masa lalu hingga sekarang, sehingga tidak harus ada kisah ini, tidak harus ada rindu, dan tidak harus ada yang perlu dikenang, karena begitu berkesannya apa-apa yang telah dibuat Dilan untuknya.