Rabu, 14 Oktober 2015

Saya Menurut Tulisan Tangan

Pada suatu hari temen saya membeli buku yang harganya lebih dari lima puluh ribu di gramedia, untuk itu seorang ahli grafologi dengan senang hati menganalisis tulisan kami sepanjang enam baris plus tanda tangan di bawahnya. Grafologi adalah ilmu membaca tulisan tangan. Jadi orang yang memahami grafologi bisa melihat kepribadian, sifat, masalah, penyakit, dan hanya dari tulisan tangan seorang grafolog juga bisa tahu apakah orang yang dianalisis tulisan tangannya pengguna narkoba atau bukan. Memangnya bisa begitu? Entahlah, si grafolog bilang begini: kita menulis memakai tangan atau otak? Kami menjawab: tangan. Apa bisa pakai kaki? Tidak. Kalau dilatih kita bisa menulis pakai kaki lho! Kalau pakai mulut? Bisa. Iya kalau dilatih kan? Nah artinya kita menulis pakai tangan atau otak? Dan mau tak mau kami menjawab: otak. Artinya otaklah yang membuat kita menulis melalui tangan dan dari situ bisa diketahui misteri-misteri dalam tulisan tangan kita.

Well, dari analisis si grafolog, dia menjabarkan siapa dan bagaimana saya dari karangan yang saya tulis tentang putri Elsa yang bertemu dengan seorang pangeran bernama... tidak penting karena bukan isi tulisan yang dilihat melainkan bentuk tulisan. Maka beginilah saya menurut ahli grafolofi, kurasa kebanyakan benar meski beberapa diragukan.

1. Belum move on. Aku tidak akan menyangkut pautkannya dengan kisah asmara, karena hellaaw kami sudah jadi teman baik. Yang aku tahu aku hanya belum move on dari Spongebob dan drama korea. Apa lumrah gadis 23 tahun lebih senang menonton kartun dibanding infotaiment dan masih senang membeli DVD drama korea? 

2. Pengalah. Pernah dengar kalau mereka dengan golongan darah A akan lebih suka mengalah untuk hal-hal yang tidak prinsipil? Aku hanya tidak senang mempermasalahkan sesuatu yang tak penting.

3. Kalau orang lain perlu motivasi dari orang lain maka aku bisa memotivasi diri sendiri. Aku hanya mengamati orang-orang keren di media sosial, biografi orang-orang terkenal, serta quote-quote yang membuatmu sadar dan tertampar. Itulah yang memotivasiku.

4. Memiliki rencana dan tahu step-step dalam menyongsong masa depan yang baik. Tentu saja, kurasa semua orang melakukannya. Kita mesti memiliki target-target khusus yang realistis seperti membaca buku pelajaran sepuluh lembar sehari.

5. Boros. Sebenarnya aku bukanlah seperti mereka-mereka yang senang dengan sepatu, pakaian, aksesoris atau barang-barang yang membuat bahagia para gadis pada umumnya. Analisis yang satu ini membuatku skeptis.

6. Keras, dalam arti kalau sudah memiliki tujuan maka akan berusaha meraihnya. Ya, saya berusaha untuk mencapai target-target meski tak begitu sampai terobsesi karena i’m a procrastinator sometimes.

7. Cuek. Masa iya? Kalau ini biarlah orang lain yang menilai.

8. Senang dengan pujian. Aku hanya khilaf kadang-kadang -___-

9. Memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan. Aaamiiiiin. 

10. Senang dengan orang-orang yang terbuka, orang-orang yang hidup tanpa topeng-topeng. Kurasa pada umumnya semua orang lebih senang dengan transparasi.

11. Tidak suka dikhianati. Memangnya ada yang suka dikhianati?


12. Berteman dengan siapapun, namun hanya mengemukakan ide-ide dan terbuka hanya pada orang-orang tertentu, pada orang-orang yang berada pada range satu saja. Bagaimana mungkin aku bercerita tentang gebetanku yang sudah jadian dengan orang lain pada orang yang baru aku kenal lima menit lalu?

Minggu, 23 Agustus 2015

Pacaran dan Hukum Penurunan Utilitas Marjinal

Tidak banyak hubungan pacaran yang bertahan lama bukan? Mengingat banyaknya teman yang curhat karena patah hati ditinggal sang kekasih. Mungkin hal ini bisa dikaitkan dengan ilmu ekonomi. Di dalam hukum ekonomi ada yang disebut dengan hukum pernurunan utilitas marjinal (The Law of Diminishing Marginal Utility). Karena saya anaknya baik untuk tidak membuat kalian repot-repot googling, maka saya kasih tahu apa itu hukum penurunan utilitas marginal. Sederhananya begini, kepuasan akan sesuatu yang kita konsumsi hanya terjadi pada tingkat tertentu, berlebih akan membuat kepuasan kita terhadap sesuatu tersebut mengalami penurunan. Contohnya: saat kita merasa lapar, tentu kita memiliki keinginan untuk membuat perut terisi, maka kita akan mencari rumah makan bersama teman-teman dan untung-untung kalau ada teman yang lagi ulang tahun dan alhamdulillah  ditraktir makan (-___-). Jadi, kita akan  memesan semangkuk bakso, maka kita akan menikmati bakso tersebut dengan perasaan senang bercampur bahagia *halaaaah, nah karena temen yang sedang berulang tahun itu baik hatinya seperti bidadari, dia membolehkan kita pesan berapapun yang kita mau ditambah dengan  kapasitas lambung yang masih terlalu longgar untuk dikatakan kenyang dan sayang sekali rasanya kalau menyia-nyiakan kebaikan teman kita itu yang mungkin saja hanya terjadi di hari itu, maka kita akan memesan mangkuk kedua. Tentu kita masih bisa menikmati mangkuk yang kedua. Tapi bagaimana dengan mangkuk ketiga, keempat, dan seterusnya? Nah disaat itulah terjadi penurunan tingkat kepuasan, semakin banyak sesuatu yang kita konsumsi semakin menurun pula tingkat kepuasan kita. Intinya berlebihan akan membuat kita berhenti dengan sendirinya.

Jadi, apa hubungannya penjelasan di atas dengan hubungan tanpa ikatan yang disebut pacaran? Nah, bukankah orang-orang yang menjalin hubungan pacaran akan melakukan hal-hal yang berlebihan? Mereka tidak akan berhenti saling menulis pesan disertai kata-kata seperti di dalam lagu-lagu cinta: cuma kamu seorang di hatiku, aku mencintaimu lebih dari apapun, ya, kata-kata gombal selalu berlebihan. Lalu telfonan dalam waktu yang lama untuk membicarakan hal-hal tidak penting. Juga petemuan yang membuat kita mengekspresikan cinta yang tak seharusnya dilakukan itu. Sejatinya tidak ada perasaan yang kekal. Perasaan itu berubah-ubah seiring waktu, yang membuatnya bertahan adalah komitmen dan saling percaya. Sementara komitmen dan kesetiaan hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu, bukan orang-orang yang menganggap perasaan adalah sesuatu yang mudah. Berlebihan tidak akan membuat bertahan lama sehingga tingkat kepuasan bagi orang-orang yang menjalin hubungan itu akan menurun perlahan-lahan.

Well, hubungan pacaran sama sekali tidak diberkahi Allah, kecuali tanpa melakukan hal-hal yang dilarang oleh-Nya, tapi memangnya ada yang seperti itu di zaman dimana keromantisan dalam drama korea yang kadang membuat iri juga? Ada banyak kisah cinta yang menakjubkan, saya pernah baca dalam sebuah blog, seseorang bercerita bagaimana dua orang yang saling mencintai namun mereka saling mengikhlaskan dan merelakan. Pada akhirnya mereka dipertemukan dan ditakdirkan untuk kemudian berjodoh.

Pasangan hidup adalah sebuah kebutuhan memang, namun waktu yang tepat untuk merasakan cinta adalah saat si pria siap mendatangi keluarga si gadis, bukan hanya dengan sekedar kata-kata manis yang tentu saja hanya omong kosong belaka.


Sekian.