Pada suatu hari temen saya membeli buku yang harganya
lebih dari lima puluh ribu di gramedia, untuk itu seorang ahli grafologi dengan senang hati menganalisis
tulisan kami sepanjang enam baris plus tanda tangan di bawahnya. Grafologi
adalah ilmu membaca tulisan tangan. Jadi orang yang memahami grafologi bisa
melihat kepribadian, sifat, masalah, penyakit, dan hanya dari tulisan tangan seorang grafolog juga bisa tahu apakah orang yang dianalisis tulisan tangannya pengguna narkoba
atau bukan. Memangnya bisa begitu? Entahlah, si grafolog bilang begini: kita
menulis memakai tangan atau otak? Kami menjawab: tangan. Apa bisa pakai kaki? Tidak. Kalau
dilatih kita bisa menulis pakai kaki lho! Kalau pakai mulut? Bisa. Iya kalau
dilatih kan? Nah artinya kita menulis pakai tangan atau otak? Dan mau tak mau
kami menjawab: otak. Artinya otaklah yang membuat kita menulis melalui tangan
dan dari situ bisa diketahui misteri-misteri dalam tulisan tangan kita.
Well, dari analisis si grafolog, dia menjabarkan
siapa dan bagaimana saya dari karangan yang saya tulis tentang putri Elsa yang
bertemu dengan seorang pangeran bernama... tidak penting karena bukan isi
tulisan yang dilihat melainkan bentuk tulisan. Maka beginilah saya menurut ahli
grafolofi, kurasa kebanyakan benar meski beberapa diragukan.
1. Belum move on. Aku tidak akan menyangkut
pautkannya dengan kisah asmara, karena hellaaw kami sudah jadi teman baik. Yang aku tahu aku hanya belum move on dari
Spongebob dan drama korea. Apa lumrah gadis 23 tahun lebih
senang menonton kartun dibanding infotaiment dan masih senang membeli DVD drama
korea?
2. Pengalah. Pernah dengar kalau mereka dengan
golongan darah A akan lebih suka mengalah untuk hal-hal yang tidak prinsipil? Aku
hanya tidak senang mempermasalahkan sesuatu yang tak penting.
3. Kalau orang lain perlu motivasi dari orang lain
maka aku bisa memotivasi diri sendiri. Aku hanya mengamati orang-orang keren di media sosial, biografi orang-orang
terkenal, serta quote-quote yang membuatmu sadar dan tertampar. Itulah yang
memotivasiku.
4. Memiliki rencana dan tahu step-step dalam
menyongsong masa depan yang baik. Tentu saja, kurasa semua orang melakukannya.
Kita mesti memiliki target-target khusus yang realistis seperti membaca buku pelajaran sepuluh lembar sehari.
5. Boros. Sebenarnya aku bukanlah seperti mereka-mereka yang senang dengan
sepatu, pakaian, aksesoris atau barang-barang yang membuat bahagia para gadis pada umumnya.
Analisis yang satu ini membuatku skeptis.
6. Keras, dalam arti kalau sudah memiliki tujuan
maka akan berusaha meraihnya. Ya, saya berusaha untuk mencapai target-target
meski tak begitu sampai terobsesi karena i’m a procrastinator sometimes.
7. Cuek. Masa iya? Kalau ini biarlah orang lain yang menilai.
8. Senang dengan pujian. Aku hanya khilaf kadang-kadang -___-
9. Memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan. Aaamiiiiin.
10. Senang dengan orang-orang yang terbuka, orang-orang
yang hidup tanpa topeng-topeng. Kurasa pada umumnya semua orang lebih senang
dengan transparasi.
11. Tidak suka dikhianati. Memangnya ada yang suka
dikhianati?
12. Berteman dengan siapapun, namun hanya
mengemukakan ide-ide dan terbuka hanya pada orang-orang tertentu, pada orang-orang
yang berada pada range satu saja. Bagaimana mungkin aku bercerita tentang
gebetanku yang sudah jadian dengan orang lain pada orang yang baru aku kenal
lima menit lalu?




















