Sabtu, 14 Oktober 2023

Ketika Kamu Menjadi Biasa-Biasa Saja

Beberapa minggu lalu, rahasia kaya raya Raffi Ahmad menjadi trending di YouTube. Hari ini, kita menjadikan Raffi Ahmad, Sisca Kohl atau Willie Salim sebagai panutan, bukannya Nabi Muhammad SAW. Bagi kebanyakan orang, definisi sukses adalah kaya raya dan memiliki harta melimpah, sehingga harta benda akan selalu menjadi sesuatu yang menggiurkan bagi manusia sampai kapanpun. 

Dan kita lebih memilih untuk mengikuti arus. Karena memang kita mengukur kesuksesan seseorang berdasarkan seberapa banyak dan mewah harta benda yang ia miliki.

Dan lagi... orang-orang memamerkan kisah romantis mereka, wajah mereka yang rupawan, anak-anak mereka yang lucu, rumah estetik, kendaraan pribadi, liburan yang mengasyikkan. Kehidupan semua orang tampak begitu bahagia. Bagaimana dengan aku? Kenapa masih disini-sini saja. Lalu terbersitlah sedikit rasa iri di hati. Padahal sejatinya kita memiliki keberuntungan lain, yang mungkin saja ia tak memilikinya, hanya saja kita tak menyadarinya.

Ada banyak alasan kenapa kita berakhir menjadi orang yang biasa-biasa saja. Bisa jadi karena disorientasi, insecurity, tidak punya privilege atau tinggal dan hidup di lingkungan medioker. Lebih banyak orang yang biasa-biasa saja kok daripada yang tidak, kamu tidak sendirian. Karena memang jalan yang harus ditempuh untuk seseorang yang tidak berprivilege tak segampang itu. Jalannya terjal, sehingga lebih banyak orang yang tak ingin melaluinya. Kalaupun kamu melewatinya, kamupun belum tentu berhasil karena sainganmu banyak karena kamu sedang berada di era bonus demografi. Akan tetapi, dalam berproses dan berusaha kamu berkesempatan mencapai impianmu.

Ada pepatah mengatakan: kalaupun tidak berhasil menggapai bulan, setidaknya kamu jatuh di antara bintang-bintang. Sedikit banyak usaha yang kamu lakukan akan menjadikanmu manusia yang berbeda dibanding sebelumnya. Mungkin caramu berfikir atau memandang sesuatu dan itu sangat penting.

Di dalam diri kita, ada mimpi-mimpi yang tergerus realita. Kenyataan hidup yang pahit seolah-olah mengatakan bahwa kamu tidak sanggup mencapainya. Namun bila mendengar kisah kolonel sanders, rasa-rasanya tidak ada kata terlambat untuk berakhir menjadi mediocre. Tetapi tentu saja, lebih cepat kita menemukan titik pencapaian kita, itu lebih baik. Namun percayalah tidak banyak orang yang mencapai kesuksesan dari nol atau from zero to hero, maka dari itu kisah-kisah semacam itu selalu diangkat ke permukaan.

Kadangkala akupun merasa, untuk menjadi sukses rupanya menjadi pintar saja tak cukup, kamu sebaiknya memahami medan pertempuran. Hidup ini bagaikan peperangan, entah melawan orang lain atau melawan dirimu sendiri. Kita butuh menjadi berambisi, optimis, kompetitif, tidak takut ambil resiko, punya strategi, dan punya tujuan. Kalau kamu berdaya juang rendah dan hidup santai-santai saja, ya begitulah akhirnya, kamu tahu jawabannya, kamu hanya akan berakhir menjadi medioker.

Tetapi memangnya kenapa kalau menjadi biasa-biasa saja? Apakah itu buruk?

Apa jaminannya kalau Allah memberimu kedudukan tinggi, wajah yang rupawan atau harta yang melimpah tidak menjadikanmu manusia yang tinggi hati? Semua itu, bisa saja membuatmu menjadi angkuh, mudah merendahkan orang lain dan bersikap semena-mena.

Bisa jadi, justru itu akan menjadi boomerang untukmu. Barangkali Kamu tidak siap dengan semua itu, karenanya Allah menakdirkanmu menjadi manusia yang biasa-biasa saja.

Bagaimana jika menjadi biasa-biasa saja adalah cukup bagimu?

Jangan sedih jika tidak kaya, tidak tenar, tidak rupawan, tidak punya apa-apa. Tidak ada yang salah dengan semua itu, yang terpenting adalah kamu menjadi orang yang bemanfaat bagi orang lain, berakhlak mulia, dan senantiasa menjaga nilai-nilai moral.

Jika menjadi biasa-biasa saja adalah hasil akhirnya, maka itu bisa dimaklumi. Proses yang telah kamu lakukan dengan susah payah memang tidak selalu membuahkan hasil namun kamu bekesempatan untuk mengalami kemajuan dalam hal apapun itu. Namun jika kamu memilih menjadi biasa-biasa saja sejak awal, maka itu adalah konsekuensi atas pilihan hidupmu.

Kalaupun kamu tidak mengalami kemajuan, setidaknya kamu tidak mengalamai kemunduran.

Mungkin saya hanya membuat semacam kata-kata penghiburan. Akan tetapi, siapapun diri kita pada akhirnya...

Bersyukurlah untuk hal-hal kecil, dimana kita bisa menghirup oksigen gratis, memiliki badan yang sehat, keluarga yang harmonis, serta terlahir Islam. Bersyukurlah untuk segala hal yang kamu miliki, bukan menuntut apa-apa yang tidak kamu punyai.

Ada beberapa ayat tentang bersyukur: 

(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras." (QS. Ibrahim: 7)

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim: 34).

"Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nahl: 14)

Berkat media sosial, bersyukur memang jadi lebih sulit. Kita jadi suka membanding-bandingkan. Teralu banyak yang kita lihat dan kita menjadikan apa yang orang lain perlihatkan sebagai standar akan sebuah pencapaian, walaupun sesungguhnya kita tidak benar-benar ingin atau sanggup memiliki hal tersebut. Boleh jadi kita hanya lapar mata, kita tidak benar-benar bahagia hanya karena memilikinya.

Sebagai seorang muslim yang meyakini ayat-ayat Allah, seharusnya kita menjadi seseorang yang tenang hati dan jiwanya mengenai takdirnya, karena mungkin saja belum saatnya. Maka dari itu jangan berhenti ataupun merasa terlambat atas kesuksesanmu yang belum mampu kamu raih.

Kamis, 05 Oktober 2023

Hidup Lagi Capek-Capeknya...

Hidup lagi capek-capeknya, … (Kemudian dilanjutkan dengan kata-kata yang mengandung jokes lucu) adalah sebaris kalimat yang sedang viral sekarang.

Rupa-rupanya semua orang juga lelah ya... Bukan cuma saya atau Anda. Mungkin kebanyakan semua orang dewasa begitu, jadi kelelahan yang kita rasakan tidak perlu dibesar-besarkan.

Mengapa begitu lelah?

Ada banyak alasan kenapa kita begitu lelah, sampai rasanya ingin sekali lari dari tanggung jawab padahal belum waktunya kita beristirahat. 

Bisa jadi karena sibuk memenuhi ekspektasi orang tua, pasangan bahkan diri sendiri. Bisa jadi karena harus memberi begitu banyak tenaga, materi, dan kekuasaan atas diri kepada orang-orang yang kita cintai.. atau karena kita merasa harus berlelah-lelah hari ini demi berleha-leha nanti.

Orang dewasa harus tahu apa itu konsekuensi, resiko dan tanggung jawab agar tidak mudah mengeluh.

Karena memang, mau tidak mau kita harus bertanggung jawab untuk keluarga, masa depan dan diri sendiri. Sebuah keharusan yang harus kita lakukan dalam menjalani hidup. Karena tak pantas juga kita menjadi seorang pemalas yang tidak melakukan apa-apa. 

Memangnya siapa lagi yang bisa diharapkan selain Tuhan dan diri sendiri?


Semua orang sibuk dengan urusan mereka masing-masing, tidak akan ada yang benar-benar mau menolongmu.

Lebih baik lelah melakukan sesuatu, karena tidak melakukan apa-apa juga bisa membuat lelah.

Bukankah dibalik kelelahan kita, ada banyak pula bahagianya? Karena hidup adalah perjuangan yang harus dihadapi.

Saat kamu merasa lelah..

Semangatlah!! Ada wajah-wajah bahagia karena lelahmu. Lelah yang kau tujukan untuk orang-orang yang kamu cintai, mudah-mudahan berbuah pahala yang berlipat ganda di sisi-Nya.

Rabu, 30 Agustus 2023

Ibu Rumah Tangga Bukanlah 'Sekedar'

Baru-baru ini saya melihat status WA ibu dari anak murid saya dengan terperangah, ia membagikan foto anak muridku yang terkapar di ranjang rumah sakit. Kutanyai mengapa bisa anak sekecil itu harus ada di rumah sakit, bukannya bermain dan bersenang-senang saat libur sekolah. Jawabnya, si anak akan menjalani operasi usus buntu. Bisa diketahui penyebabnya adalah pola makan yang sembarang. Dia seorang yatim. Ibunya sibuk bekerja sebagai seorang manager di sebuah supermarket. Dia tinggal bersama pengasuhnya saat ibunya bekerja. Pengasuhnya tidak akan melakukan effort lebih dalam hal pengasuhan anak, berbeda dengan orang tuanya sendiri. Nyatanya makan masakan rumahan yang dimasak sendiri lebih baik daripada membeli makanan jadi. Pada akhirnya peran ibu rumah tangga menjadi begitu penting.

Ketika bersuami dan memiliki anak, seorang perempuan tak lagi bisa memikirkan dirinya sendiri. Setelahnya, hidupnya akan didedikasikan untuk mengurus anak dan suami. Itu adalah sebuah konsekuensi atas pilihan hidup. Gitasav tahu betul itu, ia hanya tidak ingin kehilangan jati dirinya dengan segala proses yang ia lewati dengan susah payah. Ia tidak ingin mengambil peran sebagai seorang Ibu dengan segala tanggung jawabnya yang sangat tidak bisa digantikan oleh orang lain. Ia bertanggung jawab dengan tidak ingin mengambil tanggung jawab karena mengurus anak bukanlah perkara mudah. Tetapi salahnya, ia melempar opini itu kepada followersnya yang memiliki situasi dan keadaan hidup yang berbeda. Tidak semua pemikiran harus diutarakan, tidak semua opini cocok diterapkan.

Bahkan untuk menjadi seorang Ibu rumah tangga sebaiknya berpendidikan dan berpengetahuan. Seorang ibu sebaiknya belajar mengenai ilmu parenting demi terlahirnya anak yang baik dan berakhlak, karena sebaiknya manusia-manusia berakhlak dan pandailah yang memenuhi bumi Indonesia, mengingat ranking PISA Indonesia adalah 74. Kalau beranak sekedar beranak kucing juga beranak.
Adapun ilmu lain yang sebaiknya dikuasai adalah Ilmu agama, ilmu ekonomi, ilmu psikologi dan ilmu gizi. 

Memiliki anak juga berarti kamu harus memiliki mental dan finansial yang stabil.  Karena menjadi Ibu rumah tangga berarti kamu mengorbankan banyak hal, seperti waktu untuk dirimu sendiri dan biaya-biaya ini dan itu. Kamu juga harus punya kecerdasan emosional. Disekeliling saya, ada banyak Ibu yang kewalahan dan kelelahan. Ibu rumah tangga adalah ahlinya multitasking mengakibatkan sesekali linglung dan mudah marah.

Banyak perempuan yang bercita-cita menjadi ibu rumah tangga dikarenakan Ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang mulia. Banyak pula perempuan yang bersedia meninggalkan karier dan pekerjaan demi mengurus suami dan anak-anak dan itu bukanlah suatu pilihan yang buruk. Meski tidak begitu dihargai dan seringkali diremehkan, ibu rumah tangga adalah profesi dengan pahala berlipat ganda. Jika ada ibu di rumah, maka semuanya berjalan dengan baik dan aman. 
Persediaan bahan-bahan makanan yang siap di masak tersedia di lemari pendingin.
Makanan rumahan yang sehat akan selalu tersedia di meja makan.
Pakaian bersih akan tersusun rapi dalam lemari.
Piring-piring kotor bekas makan anak dan suami menjadi bersih tak bernoda.
Rumah yang semula berantakan akan rapi, bersih dan nyaman.
Sungguh pekerjaan ibu rumah tangga tidak ada habisnya. Dan seorang ibu rumah tangga akan tetap berusaha mengurus keluarga meski tidak enak badan.

Definisi sukses bagi para ibu rumah tangga yang tidak atau berhenti bekerja barangkali telah berubah, tak lagi dengan pencapaian atau materi yang mesti mereka dapatkan, melainkan bagaimana rumah mereka menjadi tempat yang nyaman dan aman bagi suami dan anak-anak, serta bagaimana menjadikan anak-anak mereka anak-anak yang cemerlang dan berakhlak mulia, serta memiliki skill yang mumpuni untuk bisa menghadapi dunia yang keras ini.

Minggu, 07 Januari 2018

Tentang Dilan

Related image
Sampai sekarang saya belum move on dari novel Dilan yang penuh dialog-dialog cerdas dan romantis, meski gaya bahasanya biasa saja dan tidak rapi. Saya tidak tertarik baca awalnya ketika baca satu dua halaman di gramedia yang sudah tak berplastik. Saya merasa novel ini biasa saja karena gaya bahasanya tidak sebagus novel-novel yang biasa saya baca. Nyatanya, kita memang tidak bisa menyimpulkan hanya dengan membaca satu dua halaman. Akan tetapi setelah tahu novel ini akan difilmkan dan trailernya ditonton dua juta kali dalam dua hari, saya menjadi penasaran untuk membaca secara keseluruhan. Akhirnya saya tahu kenapa novel ini menjadi best seller dan memiliki banyak penggemar. Yah, barangkali saya terlalu terlambat membaca ini, tetapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Sebenarnya cerita dalam novel ini biasa saja dan sederhana akan tetapi yang membuatnya menarik adalah kisah dan tokoh-tokoh di dalamnya adalah nyata, bercerita perihal kisah cinta sepasang remaja ketika duduk di bangku SMA, tentang Dilan dan Milea, terjadi di Bandung, tahun 1990. Ditulis oleh Pidi Baiq dengan melakukan wawancara khusus dengan si pemilik kisah. Karena katanya ini kisah nyata, saya mencari tahu siapa Dilan, tapi tidak diketahui dengan pasti siapalah si Dilan ini, membuat saya dan pembaca lainnya menduga-duga, jangan-jangan Dilan adalah penulisnya sendiri. Milea sendiri telah saya lihat foto-fotonya di media sosial. Saya sependapat dengan apa yang dikatakan Sherlock Holmes dalam filmnya Mr. Holmes (2015): “Fiction is worthless.” Tetapi tidak bisa pula mengabaikan novel fiksi yang bagus.

Kebanyakan pembaca perempuan sudah dipastikan akan jatuh cinta pada tokoh Dilan. Pemuda bandel tetapi cerdas. Pemuda yang merupakan anggota geng motor namun tetap mendapatkan ranking pertama di kelas, dengan hobi membaca dan menulis puisi. Siapa yang terpikirkan untuk memberi hadiah ulang tahun berupa TTS yang telah diisinya semalaman? Siapa yang terpikirkan untuk mengirim surat kepada tetangga si gebetan mengenai betapa ia menyukai gadis yang bertetangga dengannya itu? Siapa yang terpikirkan untuk mengirim cokelat melalui tukang koran atau tukang sayur? Semua yang dilakukan Dilan untuk Milea adalah hal-hal yang kreatif dan anti mainstream, begitupun puisi-puisi yang ia buat. Memang benar, menjadi normal bukanlah hal yang bagus. Milea, si gadis cantik jelita dan didekati banyak laki-laki jaman itu, tidak tertarik bahkan pada laki-laki yang memiliki spesifikasi yang mumpuni dibandingkan Dilan. Membaca ini para perempuan dibuat tersipu dan jatuh cinta, sementara para lelaki menjadi peniru Dilan.

Lalu novel ini menyampaikan beberapa pelajaran berharga, semacam jangan mengambil keputusan semena-mena dan menganggap enteng perkara asal bicara lalu mengira, setelahnya semua akan berjalan baik-baik saja, karena semua hal tidaklah selamanya berjalan seperti perkiraanmu. Tidak baik pula mengubah seseorang yang telah nyaman menjadi dirinya sendiri, seolah-olah hidup hanya melulu tentang romansa, tidak pertemanan dan kehidupan lainnya. Sementara kehidupan yang baik adalah kehidupan yang berjalan seimbang. Untuk kemudian, keegoisan Milea membuat Dilan ragu untuk menginginkannya kembali. Perasaan itu lalu berubah sebagaimana waktu berlalu, cinta untuk Milea kembali hadir kadang-kadang, namun kesalahpahaman membuat keinginannya untuk bersatu menjadi runtuh. Begitupun Milea yang selalu berharap akan kembali bersama-sama dengan Dilan. Mereka sama-sama masih mencintai, ingin kembali, tetapi prasangka akan hadirnya sosok pengganti masing-masing pihak membuat mereka memilih menjauhi. Pelajaran kedua, Betapa prasangka begitu berbahaya, maka bertanyalah perihal yang samar-samar. Jadikanlah semua itu terang-benderang. Meski harus mengabaikan gengsi dan harga diri.

Dilan dan Milea tidak berjodoh adalah kenyataan pahit yang harus diterima penggemar novel Dilan macam saya. Akan tetapi waktu yang telah berlalu tidak bisa kembali karena masing-masing pihak terlambat menyadari. Cinta itu tidak egois, maka dari itu cinta tidak harus memiliki. Mencintai itu mengkhilaskan, merelakan, melepaskan.

Lalu membuat saya berfikir pula, barangkali itulah kenapa Allah melarang hal-hal semacam pacaran itu dilakukan. Yang Allah perintahkan adalah semata-mata demi kebaikan kita, selain menjaga kehormatan diri, menghindarinya mampu menjaga hati. Perasaan yang terlampau berlebihan hanya akan merugikan diri sendiri. Seharusnya dari awal Milea tidak tergoda akan perlakuan dan kata-kata romantis Dilan, sehingga tidak perlu hidup di masa lalu hingga sekarang, sehingga tidak harus ada kisah ini, tidak harus ada rindu, dan tidak harus ada yang perlu dikenang, karena begitu berkesannya apa-apa yang telah dibuat Dilan untuknya. 

Selasa, 22 Agustus 2017

Telah Kusimpan Kau

Tak perlu kau menghentikan waktu

Biarlah berlalu

Jangan takut akan lupaku

Telah kusimpan kau dalam tulisan

Di buku bersampul hijau

Telah kurekam suara-suara dalam ingatan

Untuk kukenang kau kapan-kapan

Meski nyatanya, kelak


Akulah yang terlupa

Rabu, 14 Oktober 2015

Saya Menurut Tulisan Tangan

Pada suatu hari temen saya membeli buku yang harganya lebih dari lima puluh ribu di gramedia, untuk itu seorang ahli grafologi dengan senang hati menganalisis tulisan kami sepanjang enam baris plus tanda tangan di bawahnya. Grafologi adalah ilmu membaca tulisan tangan. Jadi orang yang memahami grafologi bisa melihat kepribadian, sifat, masalah, penyakit, dan hanya dari tulisan tangan seorang grafolog juga bisa tahu apakah orang yang dianalisis tulisan tangannya pengguna narkoba atau bukan. Memangnya bisa begitu? Entahlah, si grafolog bilang begini: kita menulis memakai tangan atau otak? Kami menjawab: tangan. Apa bisa pakai kaki? Tidak. Kalau dilatih kita bisa menulis pakai kaki lho! Kalau pakai mulut? Bisa. Iya kalau dilatih kan? Nah artinya kita menulis pakai tangan atau otak? Dan mau tak mau kami menjawab: otak. Artinya otaklah yang membuat kita menulis melalui tangan dan dari situ bisa diketahui misteri-misteri dalam tulisan tangan kita.

Well, dari analisis si grafolog, dia menjabarkan siapa dan bagaimana saya dari karangan yang saya tulis tentang putri Elsa yang bertemu dengan seorang pangeran bernama... tidak penting karena bukan isi tulisan yang dilihat melainkan bentuk tulisan. Maka beginilah saya menurut ahli grafolofi, kurasa kebanyakan benar meski beberapa diragukan.

1. Belum move on. Aku tidak akan menyangkut pautkannya dengan kisah asmara, karena hellaaw kami sudah jadi teman baik. Yang aku tahu aku hanya belum move on dari Spongebob dan drama korea. Apa lumrah gadis 23 tahun lebih senang menonton kartun dibanding infotaiment dan masih senang membeli DVD drama korea? 

2. Pengalah. Pernah dengar kalau mereka dengan golongan darah A akan lebih suka mengalah untuk hal-hal yang tidak prinsipil? Aku hanya tidak senang mempermasalahkan sesuatu yang tak penting.

3. Kalau orang lain perlu motivasi dari orang lain maka aku bisa memotivasi diri sendiri. Aku hanya mengamati orang-orang keren di media sosial, biografi orang-orang terkenal, serta quote-quote yang membuatmu sadar dan tertampar. Itulah yang memotivasiku.

4. Memiliki rencana dan tahu step-step dalam menyongsong masa depan yang baik. Tentu saja, kurasa semua orang melakukannya. Kita mesti memiliki target-target khusus yang realistis seperti membaca buku pelajaran sepuluh lembar sehari.

5. Boros. Sebenarnya aku bukanlah seperti mereka-mereka yang senang dengan sepatu, pakaian, aksesoris atau barang-barang yang membuat bahagia para gadis pada umumnya. Analisis yang satu ini membuatku skeptis.

6. Keras, dalam arti kalau sudah memiliki tujuan maka akan berusaha meraihnya. Ya, saya berusaha untuk mencapai target-target meski tak begitu sampai terobsesi karena i’m a procrastinator sometimes.

7. Cuek. Masa iya? Kalau ini biarlah orang lain yang menilai.

8. Senang dengan pujian. Aku hanya khilaf kadang-kadang -___-

9. Memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan. Aaamiiiiin. 

10. Senang dengan orang-orang yang terbuka, orang-orang yang hidup tanpa topeng-topeng. Kurasa pada umumnya semua orang lebih senang dengan transparasi.

11. Tidak suka dikhianati. Memangnya ada yang suka dikhianati?


12. Berteman dengan siapapun, namun hanya mengemukakan ide-ide dan terbuka hanya pada orang-orang tertentu, pada orang-orang yang berada pada range satu saja. Bagaimana mungkin aku bercerita tentang gebetanku yang sudah jadian dengan orang lain pada orang yang baru aku kenal lima menit lalu?

Minggu, 23 Agustus 2015

Pacaran dan Hukum Penurunan Utilitas Marjinal

Tidak banyak hubungan pacaran yang bertahan lama bukan? Mengingat banyaknya teman yang curhat karena patah hati ditinggal sang kekasih. Mungkin hal ini bisa dikaitkan dengan ilmu ekonomi. Di dalam hukum ekonomi ada yang disebut dengan hukum pernurunan utilitas marjinal (The Law of Diminishing Marginal Utility). Karena saya anaknya baik untuk tidak membuat kalian repot-repot googling, maka saya kasih tahu apa itu hukum penurunan utilitas marginal. Sederhananya begini, kepuasan akan sesuatu yang kita konsumsi hanya terjadi pada tingkat tertentu, berlebih akan membuat kepuasan kita terhadap sesuatu tersebut mengalami penurunan. Contohnya: saat kita merasa lapar, tentu kita memiliki keinginan untuk membuat perut terisi, maka kita akan mencari rumah makan bersama teman-teman dan untung-untung kalau ada teman yang lagi ulang tahun dan alhamdulillah  ditraktir makan (-___-). Jadi, kita akan  memesan semangkuk bakso, maka kita akan menikmati bakso tersebut dengan perasaan senang bercampur bahagia *halaaaah, nah karena temen yang sedang berulang tahun itu baik hatinya seperti bidadari, dia membolehkan kita pesan berapapun yang kita mau ditambah dengan  kapasitas lambung yang masih terlalu longgar untuk dikatakan kenyang dan sayang sekali rasanya kalau menyia-nyiakan kebaikan teman kita itu yang mungkin saja hanya terjadi di hari itu, maka kita akan memesan mangkuk kedua. Tentu kita masih bisa menikmati mangkuk yang kedua. Tapi bagaimana dengan mangkuk ketiga, keempat, dan seterusnya? Nah disaat itulah terjadi penurunan tingkat kepuasan, semakin banyak sesuatu yang kita konsumsi semakin menurun pula tingkat kepuasan kita. Intinya berlebihan akan membuat kita berhenti dengan sendirinya.

Jadi, apa hubungannya penjelasan di atas dengan hubungan tanpa ikatan yang disebut pacaran? Nah, bukankah orang-orang yang menjalin hubungan pacaran akan melakukan hal-hal yang berlebihan? Mereka tidak akan berhenti saling menulis pesan disertai kata-kata seperti di dalam lagu-lagu cinta: cuma kamu seorang di hatiku, aku mencintaimu lebih dari apapun, ya, kata-kata gombal selalu berlebihan. Lalu telfonan dalam waktu yang lama untuk membicarakan hal-hal tidak penting. Juga petemuan yang membuat kita mengekspresikan cinta yang tak seharusnya dilakukan itu. Sejatinya tidak ada perasaan yang kekal. Perasaan itu berubah-ubah seiring waktu, yang membuatnya bertahan adalah komitmen dan saling percaya. Sementara komitmen dan kesetiaan hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu, bukan orang-orang yang menganggap perasaan adalah sesuatu yang mudah. Berlebihan tidak akan membuat bertahan lama sehingga tingkat kepuasan bagi orang-orang yang menjalin hubungan itu akan menurun perlahan-lahan.

Well, hubungan pacaran sama sekali tidak diberkahi Allah, kecuali tanpa melakukan hal-hal yang dilarang oleh-Nya, tapi memangnya ada yang seperti itu di zaman dimana keromantisan dalam drama korea yang kadang membuat iri juga? Ada banyak kisah cinta yang menakjubkan, saya pernah baca dalam sebuah blog, seseorang bercerita bagaimana dua orang yang saling mencintai namun mereka saling mengikhlaskan dan merelakan. Pada akhirnya mereka dipertemukan dan ditakdirkan untuk kemudian berjodoh.

Pasangan hidup adalah sebuah kebutuhan memang, namun waktu yang tepat untuk merasakan cinta adalah saat si pria siap mendatangi keluarga si gadis, bukan hanya dengan sekedar kata-kata manis yang tentu saja hanya omong kosong belaka.


Sekian.