Saat aku akan keluar rumah hendak menyambut kehangatan sinar
mentari, aku melihatnya, kecoa, makhluk menjijikkan itu. Kalian tau kecoa kan?
Tentu saja. Makhluk itu ada di setiap rumah, termasuk menumpang hidup di rumah kalian, kecuali kalau rumah kalian benar-benar super bersih.
Mereka kadang bersembunyi di dalam sarang, kadang merayap, kadang sesekali
terbang. Kalian bisa menemukannya di dapur ataupun di kamar mandi, mereka
senang berada di tempat yang hangat, lembab dan banyak terdapat makanan. Tapi kalian tidak akan bisa percaya dengan
apa yang kulihat saat ini. Aku harus menyaksikan makhluk itu muncul berkerumun
dari dalam tanah lalu merayap kesana kemari di halaman. Jumlahnya tidak
sedikit, awalnya muncul satu dua, lalu sepuluh, lalu dua puluh, lalu seratus,
lama kelamaan semakin banyak dan banyak hingga aku tidak bisa lagi memperkirakan berapa jumlahnya,
mereka keluar dari dalam lubang secara bersamaan, bertumpuk-tumpuk. Satu di
antara mereka merayap ke arah kakiku. Aku memekik dan segera masuk kedalam
rumah, menutup pintu, jendela, lubang angin, atau apapun yang memungkinkan
kecoa-kecoa itu bisa masuk kedalam rumah. Gerakanku melambat, kaki ku
gemetaran. Mereka tampak mengerikan. Entah darimana dan bagaimana bisa kecoa
sebanyak itu datang, mereka seperti dari
dunia lain, atau mungkin ada kehidupan lain di bawah tanah, sebuah tempat
khusus dimana kecoa-kecoa itu hidup, mencari makan dan berkembang biak.
Keluargaku yang sedang sibuk dengan kegiatan mereka
masing-masing berhenti, menghampiriku, bertanya.
“ke.. coa.. ke.. coa.. kecoa..” aku menjawab terbata sambil
menunjuk-nunjuk ke arah halaman.
Mereka semua mengernyit heran melihat gelagatku. Mungkin
mereka fikir, kecoa? Hanya kecoa? Oh ayolah, kecoa cuma makhluk kecil, kau
hanya perlu menginjaknya maka urusan selesai.
Kakakku membuka gorden, mengintip di jendela, memastikan apa
yang terjadi. Ia terlonjak dan menatap kami dengan ekspresi seperti saat kau
tak sengaja melihat hantu. Ayah, Ibu, adik, dan kakak perempuanku melakukan hal
yang sama, setelahnya Ibu dan kakak perempuanku berteriak kencang. Mereka tidak
bisa melihat cahaya matahari di jendela dengan jelas, karena sebagian
kecoa-kecoa itu menutupinya, yang terlihat adalah kaki-kaki mereka yang kecil
dan bergerombol, dan sebagian lainnya adalah kecoa-kecoa yang menutupi
rerumputan dan pepohonan di halaman. Aku menangis, dan mulai berfikir apakah
kami aman disini dan apakah kecoa-kecoa itu akan memakan kami hidup-hidup kalau
mereka berhasil menerobos masuk ke dalam rumah kami. Walaupun aku tidak pernah
mendengar ada kecoa yang suka makan daging manusia, tapi bisa saja itu terjadi.
Jika jumlah makanan mereka yang tersedia di bumi ini sudah habis maka tidak
menutup kemungkinan manusia akan jadi makanan cadangan mereka. Aku menangis semakin kencang. Sekarang kami semua
begitu ketakutan, kami terkurung di dalam rumah ini memikirkan kemungkinan-kemungkinan
buruk yang kapanpun bisa terjadi.
Aku segera bangkit dari dudukku saat melihat seekor kecoa
berhasil masuk melewati lubang angin yang tadi luput dari pandanganku, makhluk
itu terbang dan merayap di lantai. Kakakku segera menginjaknya, mengakhiri
hidup si kecoa. Melihat tidak ada kecoa lain yang masuk, kami fikir mereka
pasti telah lenyap entah kemana. Benar saja saat kami kembali mengintip di
jendela, kami tidak melihat seseekor kecoapun lagi. Kami menghembuskan nafas
lega, jangan-jangan ada superhero yang menyelamatkan hidup kami dari serangan
kecoa. Kali ini Ayahku tanpa rasa was-was dengan ringan membuka pintu selebar
mungkin, kami semua keluar rumah dan.. kami satu keluarga harus menyaksikan
sesuatu yang lebih mengerikan dibanding melihat segerombolan kecoa yang
jumlahnya mungkin lebih banyak dibanding jumlah pasir di pantai yang ada di
seluruh dunia. Ada seekor.. eh.. tidak.. dua ekor kecoa raksasa yang sedang
melayang diatas rumah kami.
***
Muahahaha.. kisah diatas hanya fiktif semata, ide cerita
bersumber dari mimpi yang dialami penulis semalam. Maka pagi ini, dengan lancar
saya menuangkannya dalam bentuk tulisan singkat. Mungkin karena lupa membaca
doa sebelum tidur sehingga saya
mengalami mimpi buruk yang aneh. Tapi mimpi buruk kali ini lumayan seru!!





















Mantaaappp.....lumayan dek...
BalasHapusLanjutkan...!
*gaya bahasanya mirip sekai dgn tulisan-tulisan tere liye...
Mantaaappp...
BalasHapusLumayan dek, lanjutkan...!!!
*gaya bahasanya mirip sekali dgn tere liye... :)
huaaah.. di baca mbak yurda :D
BalasHapusmungkin karena aku ngefans sama Tere Liye mbak, makanya jadi mirip.
Ini nggak ada lanjutannya mbak, cuma segitu doang :D
Makasih sudah baca mbak :))