Senin, 26 Mei 2014

The Cockroach

Saat aku akan keluar rumah hendak menyambut kehangatan sinar mentari, aku melihatnya, kecoa, makhluk menjijikkan itu. Kalian tau kecoa kan? Tentu saja. Makhluk itu ada di setiap rumah, termasuk menumpang hidup di rumah kalian, kecuali kalau rumah kalian benar-benar super bersih. Mereka kadang bersembunyi di dalam sarang, kadang merayap, kadang sesekali terbang. Kalian bisa menemukannya di dapur ataupun di kamar mandi, mereka senang berada di tempat yang hangat, lembab dan banyak terdapat makanan. Tapi kalian tidak akan bisa percaya dengan apa yang kulihat saat ini. Aku harus menyaksikan makhluk itu muncul berkerumun dari dalam tanah lalu merayap kesana kemari di halaman. Jumlahnya tidak sedikit, awalnya muncul satu dua, lalu sepuluh, lalu dua puluh, lalu seratus, lama kelamaan semakin banyak dan banyak hingga aku tidak bisa lagi memperkirakan berapa jumlahnya, mereka keluar dari dalam lubang secara bersamaan, bertumpuk-tumpuk. Satu di antara mereka merayap ke arah kakiku. Aku memekik dan segera masuk kedalam rumah, menutup pintu, jendela, lubang angin, atau apapun yang memungkinkan kecoa-kecoa itu bisa masuk kedalam rumah. Gerakanku melambat, kaki ku gemetaran. Mereka tampak mengerikan. Entah darimana dan bagaimana bisa kecoa sebanyak  itu datang, mereka seperti dari dunia lain, atau mungkin ada kehidupan lain di bawah tanah, sebuah tempat khusus dimana kecoa-kecoa itu hidup, mencari makan dan berkembang biak.

Keluargaku yang sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing berhenti, menghampiriku, bertanya.

“ke.. coa.. ke.. coa.. kecoa..” aku menjawab terbata sambil menunjuk-nunjuk ke arah halaman.

Mereka semua mengernyit heran melihat gelagatku. Mungkin mereka fikir, kecoa? Hanya kecoa? Oh ayolah, kecoa cuma makhluk kecil, kau hanya perlu menginjaknya maka urusan selesai.

Kakakku membuka gorden, mengintip di jendela, memastikan apa yang terjadi. Ia terlonjak dan menatap kami dengan ekspresi seperti saat kau tak sengaja melihat hantu. Ayah, Ibu, adik, dan kakak perempuanku melakukan hal yang sama, setelahnya Ibu dan kakak perempuanku berteriak kencang. Mereka tidak bisa melihat cahaya matahari di jendela dengan jelas, karena sebagian kecoa-kecoa itu menutupinya, yang terlihat adalah kaki-kaki mereka yang kecil dan bergerombol, dan sebagian lainnya adalah kecoa-kecoa yang menutupi rerumputan dan pepohonan di halaman. Aku menangis, dan mulai berfikir apakah kami aman disini dan apakah kecoa-kecoa itu akan memakan kami hidup-hidup kalau mereka berhasil menerobos masuk ke dalam rumah kami. Walaupun aku tidak pernah mendengar ada kecoa yang suka makan daging manusia, tapi bisa saja itu terjadi. Jika jumlah makanan mereka yang tersedia di bumi ini sudah habis maka tidak menutup kemungkinan manusia akan jadi makanan cadangan mereka. Aku  menangis semakin kencang. Sekarang kami semua begitu ketakutan, kami terkurung di dalam rumah ini memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang kapanpun bisa terjadi.

Aku segera bangkit dari dudukku saat melihat seekor kecoa berhasil masuk melewati lubang angin yang tadi luput dari pandanganku, makhluk itu terbang dan merayap di lantai. Kakakku segera menginjaknya, mengakhiri hidup si kecoa. Melihat tidak ada kecoa lain yang masuk, kami fikir mereka pasti telah lenyap entah kemana. Benar saja saat kami kembali mengintip di jendela, kami tidak melihat seseekor kecoapun lagi. Kami menghembuskan nafas lega, jangan-jangan ada superhero yang menyelamatkan hidup kami dari serangan kecoa. Kali ini Ayahku tanpa rasa was-was dengan ringan membuka pintu selebar mungkin, kami semua keluar rumah dan.. kami satu keluarga harus menyaksikan sesuatu yang lebih mengerikan dibanding melihat segerombolan kecoa yang jumlahnya mungkin lebih banyak dibanding jumlah pasir di pantai yang ada di seluruh dunia. Ada seekor.. eh.. tidak.. dua ekor kecoa raksasa yang sedang melayang diatas rumah kami.

 ***

Muahahaha.. kisah diatas hanya fiktif semata, ide cerita bersumber dari mimpi yang dialami penulis semalam. Maka pagi ini, dengan lancar saya menuangkannya dalam bentuk tulisan singkat. Mungkin karena lupa membaca doa sebelum tidur sehingga saya mengalami mimpi buruk yang aneh. Tapi mimpi buruk kali ini lumayan seru!!

3 komentar:

  1. Mantaaappp.....lumayan dek...
    Lanjutkan...!

    *gaya bahasanya mirip sekai dgn tulisan-tulisan tere liye...

    BalasHapus
  2. Mantaaappp...
    Lumayan dek, lanjutkan...!!!

    *gaya bahasanya mirip sekali dgn tere liye... :)

    BalasHapus
  3. huaaah.. di baca mbak yurda :D
    mungkin karena aku ngefans sama Tere Liye mbak, makanya jadi mirip.
    Ini nggak ada lanjutannya mbak, cuma segitu doang :D
    Makasih sudah baca mbak :))

    BalasHapus