Jumat, 30 Mei 2014

Tidakkah Kita Pernah Berfikir?

Mungkin ada suatu masa ketika kita merasa hidup ini terlalu membosankan, berada pada titik stagnan,  merasa tidak berguna, merasa tidak dipedulikan, merasa hidup ini tidak adil, merasa tidak punya kesempatan, merasa terkalahkan, merasa menjadi pecundang dan beragam perasaan-perasaan yang mampu membuat air mata berlinang.

Tapi ada satu fakta yang mungkin bisa membuat kita sedikit membuka mata. Fakta yang menyatakan bahwa kita semua terlahir sebagai seorang pemenang. Ya.. Setiap manusia yang dilahirkan ke dunia ini adalah seorang pemenang. Tahu tidak? Kita adalah satu-satunya yang terpilih diantara tiga ratus juta lainnya, TIGA RATUS JUTA LOH, tiga ratus juta itu lebih dari jumlah penduduk Indonesia yang ada pada saat ini, yang kemudian disaring lagi menjadi lima puluh sampai lima belas besar dan tau-tau kita menjadi pemenangnya. Bukan pemenang sebagai penyanyi keren yang mengalahkan banyak kontestan X-Factor atau Indonesian Idol, tetapi mengalahkan calon-calon manusia yang –kalau beruntung- maka benar-benar menjadi makhluk real bernama manusia. 

Sejak awal, sebelum dilahirkan dari rahim Ibu kita, bahkan sebelum terbentuknya janin, dari tiga ratus juta sel sperma, Allah hanya menakdirkan lima puluh hingga lima belas benih manusia yang berhasil masuk kedalam tabung fallovi. Kemudian, dari sejumlah itu hanya satu sel saja yang dapat membuahi sel telur wanita. Dan dengan proses-proses selanjutnya jadilah seorang manusia dengan segala keistimewaannya.

Tidakkah kita pernah berfikir betapa beruntungnya kita terlahir ke dunia ini? Betapa Allah maha baik? Kita diberi kesempatan untuk menghirup oksigen secara gratis, kita diberi kesempatan untuk melakukan banyak hal, kita diberi kesempatan menatap matahari terbit ketika fajar menyingsing, menatap indahnya rembulan dan langit berbintang di malam hari, memandang langit biru tak bertiang, merasakan aroma hujan yang menerpa jalanan, merasakan angin berhembus menerpa wajah, dan hal-hal menyenangkan lainnya.

Tidakkah kita pernah berfikir betapa beruntungnya kita? 

Senin, 26 Mei 2014

The Cockroach

Saat aku akan keluar rumah hendak menyambut kehangatan sinar mentari, aku melihatnya, kecoa, makhluk menjijikkan itu. Kalian tau kecoa kan? Tentu saja. Makhluk itu ada di setiap rumah, termasuk menumpang hidup di rumah kalian, kecuali kalau rumah kalian benar-benar super bersih. Mereka kadang bersembunyi di dalam sarang, kadang merayap, kadang sesekali terbang. Kalian bisa menemukannya di dapur ataupun di kamar mandi, mereka senang berada di tempat yang hangat, lembab dan banyak terdapat makanan. Tapi kalian tidak akan bisa percaya dengan apa yang kulihat saat ini. Aku harus menyaksikan makhluk itu muncul berkerumun dari dalam tanah lalu merayap kesana kemari di halaman. Jumlahnya tidak sedikit, awalnya muncul satu dua, lalu sepuluh, lalu dua puluh, lalu seratus, lama kelamaan semakin banyak dan banyak hingga aku tidak bisa lagi memperkirakan berapa jumlahnya, mereka keluar dari dalam lubang secara bersamaan, bertumpuk-tumpuk. Satu di antara mereka merayap ke arah kakiku. Aku memekik dan segera masuk kedalam rumah, menutup pintu, jendela, lubang angin, atau apapun yang memungkinkan kecoa-kecoa itu bisa masuk kedalam rumah. Gerakanku melambat, kaki ku gemetaran. Mereka tampak mengerikan. Entah darimana dan bagaimana bisa kecoa sebanyak  itu datang, mereka seperti dari dunia lain, atau mungkin ada kehidupan lain di bawah tanah, sebuah tempat khusus dimana kecoa-kecoa itu hidup, mencari makan dan berkembang biak.

Keluargaku yang sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing berhenti, menghampiriku, bertanya.

“ke.. coa.. ke.. coa.. kecoa..” aku menjawab terbata sambil menunjuk-nunjuk ke arah halaman.

Mereka semua mengernyit heran melihat gelagatku. Mungkin mereka fikir, kecoa? Hanya kecoa? Oh ayolah, kecoa cuma makhluk kecil, kau hanya perlu menginjaknya maka urusan selesai.

Kakakku membuka gorden, mengintip di jendela, memastikan apa yang terjadi. Ia terlonjak dan menatap kami dengan ekspresi seperti saat kau tak sengaja melihat hantu. Ayah, Ibu, adik, dan kakak perempuanku melakukan hal yang sama, setelahnya Ibu dan kakak perempuanku berteriak kencang. Mereka tidak bisa melihat cahaya matahari di jendela dengan jelas, karena sebagian kecoa-kecoa itu menutupinya, yang terlihat adalah kaki-kaki mereka yang kecil dan bergerombol, dan sebagian lainnya adalah kecoa-kecoa yang menutupi rerumputan dan pepohonan di halaman. Aku menangis, dan mulai berfikir apakah kami aman disini dan apakah kecoa-kecoa itu akan memakan kami hidup-hidup kalau mereka berhasil menerobos masuk ke dalam rumah kami. Walaupun aku tidak pernah mendengar ada kecoa yang suka makan daging manusia, tapi bisa saja itu terjadi. Jika jumlah makanan mereka yang tersedia di bumi ini sudah habis maka tidak menutup kemungkinan manusia akan jadi makanan cadangan mereka. Aku  menangis semakin kencang. Sekarang kami semua begitu ketakutan, kami terkurung di dalam rumah ini memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang kapanpun bisa terjadi.

Aku segera bangkit dari dudukku saat melihat seekor kecoa berhasil masuk melewati lubang angin yang tadi luput dari pandanganku, makhluk itu terbang dan merayap di lantai. Kakakku segera menginjaknya, mengakhiri hidup si kecoa. Melihat tidak ada kecoa lain yang masuk, kami fikir mereka pasti telah lenyap entah kemana. Benar saja saat kami kembali mengintip di jendela, kami tidak melihat seseekor kecoapun lagi. Kami menghembuskan nafas lega, jangan-jangan ada superhero yang menyelamatkan hidup kami dari serangan kecoa. Kali ini Ayahku tanpa rasa was-was dengan ringan membuka pintu selebar mungkin, kami semua keluar rumah dan.. kami satu keluarga harus menyaksikan sesuatu yang lebih mengerikan dibanding melihat segerombolan kecoa yang jumlahnya mungkin lebih banyak dibanding jumlah pasir di pantai yang ada di seluruh dunia. Ada seekor.. eh.. tidak.. dua ekor kecoa raksasa yang sedang melayang diatas rumah kami.

 ***

Muahahaha.. kisah diatas hanya fiktif semata, ide cerita bersumber dari mimpi yang dialami penulis semalam. Maka pagi ini, dengan lancar saya menuangkannya dalam bentuk tulisan singkat. Mungkin karena lupa membaca doa sebelum tidur sehingga saya mengalami mimpi buruk yang aneh. Tapi mimpi buruk kali ini lumayan seru!!

Rabu, 07 Mei 2014

The One Thing We Need to Realize

Saya atau juga kalian mungkin pernah menyakiti hati seseorang tanpa pernah menyadarinya. Tanpa sadar kita berbicara tanpa melakukan penyaringan kata-kata terlebih dulu, tanpa memikirkan apakah kata-kata yang keluar dari mulut kita itu layak diucapkan atau tidak, apakah melanggar batasan-batasan atau tidak, apakah akan menyakiti hati orang yang mendengarnya atau tidak.

Seseorang dengan sense of humour yang bagus tentu saja akan disukai banyak orang, buktinya tinggi sekali rating acara-acara lawak ditelevisi. Sayapun demikian, menyukai orang-orang humoris. Mereka membuat suasana hati jadi riang kalau mood dalam keadaan tidak stabil, ibarat terjadinya hyper-inflasi yang akan membuat perekonomian nasional terancam ambruk.

Tidak semua orang bisa menerima kata-kata candaan yang kita anggap biasa saja,  karena tidak semua orang memiliki hati yang sabar kemudian berkata aku ora popo. Tidak semua acara-acara lawak di televisi yang ratingnya tinggi dan ditayangkan setiap hari layak ditiru. Ketika menghina dan mengejek merupakan bagian dari serangkaian guyonan-guyonan yang mampu membuat penonton terbahak-bahak. Dan kita asyik sekali ikut ketawa-ketiwi tanpa pernah tahu kalau mungkin saja kita sedang melakukan dosa-dosa kecil yang lama kelamaan membesar sehingga jadi dosa besar. 

Semoga kita bisa lebih berhati-hati dalam mengeluarkan suara yang membentuk kalimat-kalimat untuk terdengar ditelinga orang lain. karena...

"Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS. Qaf [50]:18)