Tidak banyak hubungan pacaran yang bertahan lama
bukan? Mengingat banyaknya teman yang curhat karena patah hati ditinggal sang kekasih. Mungkin hal ini bisa dikaitkan dengan ilmu ekonomi. Di dalam hukum ekonomi ada yang disebut
dengan hukum pernurunan utilitas marjinal (The
Law of Diminishing Marginal Utility).
Karena saya anaknya baik untuk tidak membuat kalian repot-repot googling, maka saya
kasih tahu apa itu hukum penurunan utilitas marginal. Sederhananya begini,
kepuasan akan sesuatu yang kita konsumsi hanya terjadi pada tingkat tertentu,
berlebih akan membuat kepuasan kita terhadap sesuatu tersebut mengalami penurunan.
Contohnya: saat kita merasa lapar, tentu kita memiliki keinginan untuk membuat
perut terisi, maka kita akan mencari rumah makan bersama teman-teman dan
untung-untung kalau ada teman yang lagi ulang tahun dan alhamdulillah ditraktir makan (-___-). Jadi, kita akan memesan semangkuk bakso, maka kita akan
menikmati bakso tersebut dengan perasaan senang bercampur bahagia *halaaaah,
nah karena temen yang sedang berulang tahun itu baik hatinya seperti bidadari,
dia membolehkan kita pesan berapapun yang kita mau ditambah dengan kapasitas lambung yang masih terlalu longgar untuk dikatakan kenyang dan sayang sekali
rasanya kalau menyia-nyiakan kebaikan teman kita itu yang mungkin saja hanya
terjadi di hari itu, maka kita akan memesan mangkuk kedua. Tentu kita masih
bisa menikmati mangkuk yang kedua. Tapi bagaimana dengan mangkuk ketiga,
keempat, dan seterusnya? Nah disaat itulah terjadi penurunan tingkat kepuasan,
semakin banyak sesuatu yang kita konsumsi semakin menurun pula tingkat kepuasan
kita. Intinya berlebihan akan membuat kita berhenti dengan sendirinya.
Jadi, apa hubungannya penjelasan di atas dengan hubungan
tanpa ikatan yang disebut pacaran? Nah, bukankah orang-orang yang menjalin
hubungan pacaran akan melakukan hal-hal yang berlebihan? Mereka tidak akan berhenti
saling menulis pesan disertai kata-kata seperti di dalam lagu-lagu cinta: cuma
kamu seorang di hatiku, aku mencintaimu lebih dari apapun, ya, kata-kata gombal
selalu berlebihan. Lalu telfonan dalam waktu yang lama untuk membicarakan
hal-hal tidak penting. Juga petemuan yang membuat kita mengekspresikan cinta yang tak seharusnya dilakukan itu. Sejatinya tidak ada perasaan yang kekal. Perasaan itu
berubah-ubah seiring waktu, yang membuatnya bertahan adalah komitmen dan saling
percaya. Sementara komitmen dan kesetiaan hanya dimiliki oleh orang-orang
tertentu, bukan orang-orang yang menganggap perasaan adalah sesuatu yang mudah. Berlebihan tidak akan membuat bertahan lama sehingga tingkat kepuasan
bagi orang-orang yang menjalin hubungan itu akan menurun perlahan-lahan.
Well, hubungan pacaran sama sekali tidak diberkahi Allah,
kecuali tanpa melakukan hal-hal yang dilarang oleh-Nya, tapi memangnya ada yang
seperti itu di zaman dimana keromantisan dalam drama korea yang kadang membuat
iri juga? Ada banyak kisah cinta yang menakjubkan, saya pernah baca dalam
sebuah blog, seseorang bercerita bagaimana dua orang yang saling mencintai
namun mereka saling mengikhlaskan dan
merelakan. Pada akhirnya mereka dipertemukan dan ditakdirkan untuk kemudian berjodoh.
Pasangan hidup adalah sebuah kebutuhan memang, namun
waktu yang tepat untuk merasakan cinta adalah saat si pria siap mendatangi
keluarga si gadis, bukan hanya dengan sekedar kata-kata manis yang tentu saja
hanya omong kosong belaka.
Sekian.





















0 komentar:
Posting Komentar