Minggu, 13 Juli 2014

Memandang Langit


Dimana kau bisa melihat awan berarak pelan? Melihat indahnya perpaduan warna pelangi? Bulan purnama yang menggantung indah? Ribuan taburan bintang? Matahari terbit dan terbenam? Darimana jatuhnya jutaan tetesan air di atap rumahmu? Jawabannya hanya satu. Langit. Bukankah langit dipenuhi hal-hal menakjubkan? Pun langit bisa membuat kita menyadari banyak hal. Tataplah langit dan rasakan..

Memandang langit membuatku menyadari tidak ada satupun manusia yang berhak jemawa. Tidak satupun. Tahu pepatah itu kan? Diatas langit masih ada langit. Kita semua setara, makhluk ciptaan Allah. Yang membedakan adalah amal kebaikan dan tingkat ketakwaan.

Memandang langit membuatku menjadi sebiji kacang hijau di tengah lapangan sepak bola. Suruhlah seseorang mencari sebiji kacang hijau di tengah luasnya lapangan sepak bola. Tidak ada yang mau repot-repot melakukan hal itu bukan? Tidak ada pentingnya. Dan aku merasa betapa kecilnya aku. Aku tidak akan bisa mengira berapa jarak antara langit dan bumi. Dengan menatap langit aku menyadari betapa luasnya alam semesta.

Memandang langit membuatku merasakan kehadiran-Nya. Merasakan Allah tengah melihatku, satu diantara triliunan makhluk ciptaan-Nya, termasuk burung-burung yang sedang mengepakkan sayapnya, melintas menembus awan, aku tahu mereka tengah bertasbih kepada Allah dengan cara mereka.

Memandang langit membuatku bersyukur. Bersyukur bisa menatap langit dengan segala keindahannya. Langit adalah satu diantara banyaknya ciptaan Allah yang hebat. Tataplah langit dan rasakan.. 

0 komentar:

Posting Komentar