Sabtu, 14 Oktober 2023

Ketika Kamu Menjadi Biasa-Biasa Saja

Beberapa minggu lalu, rahasia kaya raya Raffi Ahmad menjadi trending di YouTube. Hari ini, kita menjadikan Raffi Ahmad, Sisca Kohl atau Willie Salim sebagai panutan, bukannya Nabi Muhammad SAW. Bagi kebanyakan orang, definisi sukses adalah kaya raya dan memiliki harta melimpah, sehingga harta benda akan selalu menjadi sesuatu yang menggiurkan bagi manusia sampai kapanpun. 

Dan kita lebih memilih untuk mengikuti arus. Karena memang kita mengukur kesuksesan seseorang berdasarkan seberapa banyak dan mewah harta benda yang ia miliki.

Dan lagi... orang-orang memamerkan kisah romantis mereka, wajah mereka yang rupawan, anak-anak mereka yang lucu, rumah estetik, kendaraan pribadi, liburan yang mengasyikkan. Kehidupan semua orang tampak begitu bahagia. Bagaimana dengan aku? Kenapa masih disini-sini saja. Lalu terbersitlah sedikit rasa iri di hati. Padahal sejatinya kita memiliki keberuntungan lain, yang mungkin saja ia tak memilikinya, hanya saja kita tak menyadarinya.

Ada banyak alasan kenapa kita berakhir menjadi orang yang biasa-biasa saja. Bisa jadi karena disorientasi, insecurity, tidak punya privilege atau tinggal dan hidup di lingkungan medioker. Lebih banyak orang yang biasa-biasa saja kok daripada yang tidak, kamu tidak sendirian. Karena memang jalan yang harus ditempuh untuk seseorang yang tidak berprivilege tak segampang itu. Jalannya terjal, sehingga lebih banyak orang yang tak ingin melaluinya. Kalaupun kamu melewatinya, kamupun belum tentu berhasil karena sainganmu banyak karena kamu sedang berada di era bonus demografi. Akan tetapi, dalam berproses dan berusaha kamu berkesempatan mencapai impianmu.

Ada pepatah mengatakan: kalaupun tidak berhasil menggapai bulan, setidaknya kamu jatuh di antara bintang-bintang. Sedikit banyak usaha yang kamu lakukan akan menjadikanmu manusia yang berbeda dibanding sebelumnya. Mungkin caramu berfikir atau memandang sesuatu dan itu sangat penting.

Di dalam diri kita, ada mimpi-mimpi yang tergerus realita. Kenyataan hidup yang pahit seolah-olah mengatakan bahwa kamu tidak sanggup mencapainya. Namun bila mendengar kisah kolonel sanders, rasa-rasanya tidak ada kata terlambat untuk berakhir menjadi mediocre. Tetapi tentu saja, lebih cepat kita menemukan titik pencapaian kita, itu lebih baik. Namun percayalah tidak banyak orang yang mencapai kesuksesan dari nol atau from zero to hero, maka dari itu kisah-kisah semacam itu selalu diangkat ke permukaan.

Kadangkala akupun merasa, untuk menjadi sukses rupanya menjadi pintar saja tak cukup, kamu sebaiknya memahami medan pertempuran. Hidup ini bagaikan peperangan, entah melawan orang lain atau melawan dirimu sendiri. Kita butuh menjadi berambisi, optimis, kompetitif, tidak takut ambil resiko, punya strategi, dan punya tujuan. Kalau kamu berdaya juang rendah dan hidup santai-santai saja, ya begitulah akhirnya, kamu tahu jawabannya, kamu hanya akan berakhir menjadi medioker.

Tetapi memangnya kenapa kalau menjadi biasa-biasa saja? Apakah itu buruk?

Apa jaminannya kalau Allah memberimu kedudukan tinggi, wajah yang rupawan atau harta yang melimpah tidak menjadikanmu manusia yang tinggi hati? Semua itu, bisa saja membuatmu menjadi angkuh, mudah merendahkan orang lain dan bersikap semena-mena.

Bisa jadi, justru itu akan menjadi boomerang untukmu. Barangkali Kamu tidak siap dengan semua itu, karenanya Allah menakdirkanmu menjadi manusia yang biasa-biasa saja.

Bagaimana jika menjadi biasa-biasa saja adalah cukup bagimu?

Jangan sedih jika tidak kaya, tidak tenar, tidak rupawan, tidak punya apa-apa. Tidak ada yang salah dengan semua itu, yang terpenting adalah kamu menjadi orang yang bemanfaat bagi orang lain, berakhlak mulia, dan senantiasa menjaga nilai-nilai moral.

Jika menjadi biasa-biasa saja adalah hasil akhirnya, maka itu bisa dimaklumi. Proses yang telah kamu lakukan dengan susah payah memang tidak selalu membuahkan hasil namun kamu bekesempatan untuk mengalami kemajuan dalam hal apapun itu. Namun jika kamu memilih menjadi biasa-biasa saja sejak awal, maka itu adalah konsekuensi atas pilihan hidupmu.

Kalaupun kamu tidak mengalami kemajuan, setidaknya kamu tidak mengalamai kemunduran.

Mungkin saya hanya membuat semacam kata-kata penghiburan. Akan tetapi, siapapun diri kita pada akhirnya...

Bersyukurlah untuk hal-hal kecil, dimana kita bisa menghirup oksigen gratis, memiliki badan yang sehat, keluarga yang harmonis, serta terlahir Islam. Bersyukurlah untuk segala hal yang kamu miliki, bukan menuntut apa-apa yang tidak kamu punyai.

Ada beberapa ayat tentang bersyukur: 

(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras." (QS. Ibrahim: 7)

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim: 34).

"Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nahl: 14)

Berkat media sosial, bersyukur memang jadi lebih sulit. Kita jadi suka membanding-bandingkan. Teralu banyak yang kita lihat dan kita menjadikan apa yang orang lain perlihatkan sebagai standar akan sebuah pencapaian, walaupun sesungguhnya kita tidak benar-benar ingin atau sanggup memiliki hal tersebut. Boleh jadi kita hanya lapar mata, kita tidak benar-benar bahagia hanya karena memilikinya.

Sebagai seorang muslim yang meyakini ayat-ayat Allah, seharusnya kita menjadi seseorang yang tenang hati dan jiwanya mengenai takdirnya, karena mungkin saja belum saatnya. Maka dari itu jangan berhenti ataupun merasa terlambat atas kesuksesanmu yang belum mampu kamu raih.

0 komentar:

Posting Komentar