Rabu, 30 Agustus 2023

Ibu Rumah Tangga Bukanlah 'Sekedar'

Baru-baru ini saya melihat status WA ibu dari anak murid saya dengan terperangah, ia membagikan foto anak muridku yang terkapar di ranjang rumah sakit. Kutanyai mengapa bisa anak sekecil itu harus ada di rumah sakit, bukannya bermain dan bersenang-senang saat libur sekolah. Jawabnya, si anak akan menjalani operasi usus buntu. Bisa diketahui penyebabnya adalah pola makan yang sembarang. Dia seorang yatim. Ibunya sibuk bekerja sebagai seorang manager di sebuah supermarket. Dia tinggal bersama pengasuhnya saat ibunya bekerja. Pengasuhnya tidak akan melakukan effort lebih dalam hal pengasuhan anak, berbeda dengan orang tuanya sendiri. Nyatanya makan masakan rumahan yang dimasak sendiri lebih baik daripada membeli makanan jadi. Pada akhirnya peran ibu rumah tangga menjadi begitu penting.

Ketika bersuami dan memiliki anak, seorang perempuan tak lagi bisa memikirkan dirinya sendiri. Setelahnya, hidupnya akan didedikasikan untuk mengurus anak dan suami. Itu adalah sebuah konsekuensi atas pilihan hidup. Gitasav tahu betul itu, ia hanya tidak ingin kehilangan jati dirinya dengan segala proses yang ia lewati dengan susah payah. Ia tidak ingin mengambil peran sebagai seorang Ibu dengan segala tanggung jawabnya yang sangat tidak bisa digantikan oleh orang lain. Ia bertanggung jawab dengan tidak ingin mengambil tanggung jawab karena mengurus anak bukanlah perkara mudah. Tetapi salahnya, ia melempar opini itu kepada followersnya yang memiliki situasi dan keadaan hidup yang berbeda. Tidak semua pemikiran harus diutarakan, tidak semua opini cocok diterapkan.

Bahkan untuk menjadi seorang Ibu rumah tangga sebaiknya berpendidikan dan berpengetahuan. Seorang ibu sebaiknya belajar mengenai ilmu parenting demi terlahirnya anak yang baik dan berakhlak, karena sebaiknya manusia-manusia berakhlak dan pandailah yang memenuhi bumi Indonesia, mengingat ranking PISA Indonesia adalah 74. Kalau beranak sekedar beranak kucing juga beranak.
Adapun ilmu lain yang sebaiknya dikuasai adalah Ilmu agama, ilmu ekonomi, ilmu psikologi dan ilmu gizi. 

Memiliki anak juga berarti kamu harus memiliki mental dan finansial yang stabil.  Karena menjadi Ibu rumah tangga berarti kamu mengorbankan banyak hal, seperti waktu untuk dirimu sendiri dan biaya-biaya ini dan itu. Kamu juga harus punya kecerdasan emosional. Disekeliling saya, ada banyak Ibu yang kewalahan dan kelelahan. Ibu rumah tangga adalah ahlinya multitasking mengakibatkan sesekali linglung dan mudah marah.

Banyak perempuan yang bercita-cita menjadi ibu rumah tangga dikarenakan Ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang mulia. Banyak pula perempuan yang bersedia meninggalkan karier dan pekerjaan demi mengurus suami dan anak-anak dan itu bukanlah suatu pilihan yang buruk. Meski tidak begitu dihargai dan seringkali diremehkan, ibu rumah tangga adalah profesi dengan pahala berlipat ganda. Jika ada ibu di rumah, maka semuanya berjalan dengan baik dan aman. 
Persediaan bahan-bahan makanan yang siap di masak tersedia di lemari pendingin.
Makanan rumahan yang sehat akan selalu tersedia di meja makan.
Pakaian bersih akan tersusun rapi dalam lemari.
Piring-piring kotor bekas makan anak dan suami menjadi bersih tak bernoda.
Rumah yang semula berantakan akan rapi, bersih dan nyaman.
Sungguh pekerjaan ibu rumah tangga tidak ada habisnya. Dan seorang ibu rumah tangga akan tetap berusaha mengurus keluarga meski tidak enak badan.

Definisi sukses bagi para ibu rumah tangga yang tidak atau berhenti bekerja barangkali telah berubah, tak lagi dengan pencapaian atau materi yang mesti mereka dapatkan, melainkan bagaimana rumah mereka menjadi tempat yang nyaman dan aman bagi suami dan anak-anak, serta bagaimana menjadikan anak-anak mereka anak-anak yang cemerlang dan berakhlak mulia, serta memiliki skill yang mumpuni untuk bisa menghadapi dunia yang keras ini.

0 komentar:

Posting Komentar